PAPUA - Sekolah Rimba menjadi salah satu model pendidikan alternatif yang berkembang untuk membantu anak-anak pedalaman memperoleh pengetahuan tanpa harus meninggalkan budaya dan lingkungan tempat mereka tumbuh.
Konsep pendidikan ini dirancang agar masyarakat adat tetap dapat belajar secara mandiri dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Metode tersebut dikenal luas melalui gerakan pendidikan yang dipopulerkan oleh Butet Manurung sejak tahun 2003.
Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, proses belajar di Sekolah Rimba tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Alam dan hutan justru dijadikan sebagai tempat utama untuk mengenal berbagai ilmu kehidupan.
Baca juga: Tradisi Sasi Di Papua Jadi Benteng Adat Dalam Menjaga Laut Dan Kelestarian Biota Pesisir
Anak-anak pedalaman diajarkan memahami lingkungan sekitar secara langsung. Mereka belajar membaca tanda-tanda alam, mengenali tanaman obat, hingga memahami ekosistem yang menjadi sumber kehidupan masyarakat adat.
Metode pembelajaran juga dibuat kontekstual sesuai kebutuhan sehari-hari. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung diajarkan melalui aktivitas yang mereka alami sendiri dalam kehidupan.
Pelajaran matematika misalnya, dipraktikkan lewat kegiatan menghitung hasil buruan, menimbang hasil kebun, atau melakukan transaksi dengan pedagang agar tidak mudah tertipu.
Pendekatan tersebut membuat proses belajar terasa lebih dekat dan mudah dipahami. Anak-anak tidak hanya menghafal teori, tetapi langsung mempraktikkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Baca juga: Kisah Dokter Inspiratif Di Papua Yang Mengabdi Hingga Pedalaman
Sistem belajar di Sekolah Rimba juga bersifat fleksibel mengikuti pola hidup masyarakat adat. Ketika keluarga harus berpindah tempat atau pergi berburu, kegiatan belajar akan menyesuaikan lokasi dan waktu yang tersedia.
Pendidikan yang diberikan tidak hanya bertujuan membuat anak-anak melek aksara. Mereka juga dibekali kemampuan untuk melindungi hak dan wilayah adat dari ancaman luar.
Anak-anak dilatih memahami surat perjanjian, mengenali batas wilayah adat, hingga mengetahui pentingnya menjaga hutan dari kerusakan akibat eksploitasi yang tidak bertanggung jawab.
Baca juga: Kopi Wamena Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif Papua Dari UMKM Hingga Pasar Kopi Dunia
Pembelajaran pun dilakukan dengan cara yang menyenangkan melalui permainan tradisional. Cara ini membantu menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan dewasa di komunitasnya.
Konsep pendidikan berbasis budaya tersebut dianggap mampu menjaga identitas masyarakat adat di tengah perkembangan zaman. Anak-anak tetap memperoleh ilmu pengetahuan tanpa tercerabut dari akar tradisi mereka sendiri.
Melalui Sekolah Rimba, pendidikan tidak hanya menjadi sarana belajar membaca dan berhitung, tetapi juga jalan untuk membangun kemandirian, menjaga budaya, dan melestarikan alam yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pedalaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: