Jumat, 06 FEBRUARI 2026 • 00:03 WIB

Biak-Numfor: Sejarah Nama dan Jejak Panjang Peradaban

Author

Tampak peta wilayah Kepulauan Biak-Numfor (peta kota)

PAPUA - Kepulauan Biak-Numfor memiliki sejarah panjang yang merekam dinamika pertemuan budaya, migrasi manusia, serta kontak dengan dunia luar, jauh sebelum wilayah ini dikenal luas dalam catatan kolonial Eropa.

Pada masa pemerintahan Belanda hingga awal 1960-an, kawasan ini dikenal dengan nama Schouten Eilanden, yang diambil dari nama pelaut Belanda pertama yang mengunjungi wilayah tersebut pada awal abad ke-17.

Dalam berbagai laporan tua, penduduk dan daerah ini juga sering disebut dengan nama Numfor atau Wiak, yang secara fonetis kemudian berkembang menjadi Biak, seiring perubahan pelafalan dari fonem v menjadi b dalam percakapan masyarakat setempat.

Dua nama terakhir tersebut kemudian digabungkan menjadi Biak-Numfor, dengan tanda penghubung sebagai simbol penyatuan identitas geografis dan kultural pulau-pulau di sebelah utara Teluk Cenderawasih, meskipun dalam percakapan sehari-hari masyarakat lebih sering menggunakan sebutan Biak.

Asal-usul kata Biak memiliki beberapa versi, salah satunya menyebutkan bahwa istilah tersebut berasal dari kata v’iak yang digunakan oleh masyarakat pesisir untuk menyebut penduduk pedalaman yang dianggap kurang cakap dalam aktivitas kelautan.

Baca juga: Asal-Usul nama "Jayapura": Sejarah Panjang Kota Kemenangan di Tanah Papua

Meski semula mengandung makna merendahkan, istilah itu perlahan diterima dan berkembang menjadi identitas resmi yang mewakili penduduk dan wilayah, hingga akhirnya diresmikan sebagai nama daerah.

Versi lain berasal dari cerita lisan atau mite, yang mengisahkan perpindahan warga klen Burdam dari Pulau Warmambo akibat konflik internal, di mana kata v’iak diucapkan saat mereka melihat pulau itu terus muncul di kejauhan meski telah berlayar jauh.

Kata tersebut kemudian digunakan sebagai penamaan Pulau Warmambo, yang lambat laun dikenal sebagai Biak dan bertahan hingga kini sebagai identitas geografis dan kultural masyarakat setempat.

Nama Biak secara resmi digunakan sejak dibentuknya lembaga adat Kainkain Karkara Biak pada tahun 1947, sebagai bagian dari penguatan struktur sosial dan pemerintahan adat di wilayah kepulauan ini.

Sementara itu, nama Numfor berasal dari pulau dan komunitas penduduk asli Pulau Numfor, yang kemudian digabungkan dengan Biak menjadi satu kesatuan administratif pada pembentukan Dewan Daerah Biak-Numfor pada tahun 1959.

Sejarah asal-usul orang Biak sebagian besar bersumber dari mite yang diwariskan secara turun-temurun, yang menyebutkan bahwa leluhur mereka berasal dari wilayah timur dan tiba menggunakan perahu, lalu berkembang biak dari Bukit Sarwambo ke seluruh kepulauan.

Baca juga: Kasus Thobias Silak: Terpidana Diduga Berkeliaran, Publik Jayawijaya Soroti Integritas Penegakan Hukum

Jejak hubungan dengan dunia luar telah berlangsung jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, melalui interaksi dagang dan ekspedisi bersama Kesultanan Tidore dan Ternate, yang meninggalkan pengaruh kuat dalam budaya, bahasa, serta struktur sosial masyarakat Biak.

Kontak intensif dengan berbagai wilayah Nusantara ini menjadikan Biak sebagai salah satu pusat peradaban maritim penting di Papua, meskipun kejayaan ekspedisi tersebut mulai meredup menjelang akhir abad ke-15, tepat sebelum kedatangan bangsa Eropa di kawasan Maluku dan Papua.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU