Senin, 09 FEBRUARI 2026 • 12:51 WIB

PLTA MAMBERAMO: Solusi Energi Murah dan Berkelanjutan Papua

Author

Pemandangan kawasan Sungai Mamberamo yang membentang luas dengan debit air besar dan aliran deras (Ist)

PAPUA - Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Mamberamo dinilai sebagai langkah strategis untuk menghadirkan pasokan energi murah, bersih, dan berkelanjutan bagi masyarakat Papua serta kawasan timur Indonesia.

Penilaian tersebut disampaikan Anggota Komisi XII DPR RI, Totok Sudaryanto, saat melakukan kunjungan kerja ke PLN Jayapura dalam rangka membahas kesiapan serta potensi besar pembangunan PLTA Mamberamo sebagai salah satu proyek energi prioritas nasional.

Menurut Totok, Sungai Mamberamo memiliki debit air yang sangat besar dan stabil sepanjang tahun, sehingga mampu menghasilkan energi listrik dalam kapasitas tinggi tanpa harus bergantung pada sumber energi fosil yang mahal dan terbatas.

Pemanfaatan energi air, lanjutnya, sejalan dengan komitmen nasional dalam mendorong transisi energi bersih sekaligus menekan emisi karbon, serta memperkuat ketahanan energi di wilayah dengan tantangan geografis seperti Papua.

Baca juga: Potensi Ikan Tuna di Perairan Biak Numfor

Meski investasi awal pembangunan PLTA relatif besar, Totok menilai biaya tersebut akan terbayar dalam jangka panjang karena sumber energi berasal dari alam dan dapat diperbarui secara terus-menerus.

Ia menjelaskan bahwa teknologi PLTA memiliki keunggulan efisiensi operasional yang tinggi, karena tidak memerlukan pembelian bahan bakar seperti halnya pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara.

Berdasarkan paparan PLN, harga pokok produksi listrik dari PLTA saat ini sekitar 9 sen per kWh, sementara PLTU berada di kisaran 6 sen per kWh, namun perbandingan tersebut perlu dikaji lebih mendalam dengan mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya dan stabilitas biaya.

Totok menegaskan bahwa energi air secara teoritis lebih murah karena tidak terpengaruh fluktuasi harga pasar global, berbeda dengan batu bara yang harganya sangat bergantung pada dinamika ekonomi internasional.

Selain aspek energi, pembangunan PLTA Mamberamo juga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan infrastruktur kelistrikan di wilayah terpencil.

Dalam kesempatan yang sama, Totok turut menyoroti kebijakan BBM Satu Harga yang dinilai mampu mempersempit kesenjangan biaya energi antarwilayah, namun tetap memerlukan evaluasi agar subsidi energi tepat sasaran.

Ia menekankan pentingnya penyaluran subsidi langsung kepada masyarakat yang berhak, bukan semata pada komoditas, sehingga manfaatnya lebih terasa dan berkeadilan.

Totok juga menggarisbawahi perlunya percepatan pembangunan infrastruktur transportasi dan logistik di Papua guna menekan biaya distribusi barang dan jasa, sehingga harga kebutuhan pokok dapat lebih terjangkau.

Dengan sinergi antara pengembangan energi terbarukan, perbaikan infrastruktur, dan kebijakan subsidi yang tepat, Totok optimistis Papua akan mampu menikmati pertumbuhan ekonomi yang lebih merata, berkelanjutan, dan inklusif di masa depan.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU