PAPUA – Perayaan Tahun Baru Imlek 2570 di Kabupaten Biak Numfor berlangsung meriah dan penuh makna, menjadi simbol kuat persatuan serta harmoni di tengah keberagaman masyarakat Papua, Selasa (5/2/2019).
Perayaan yang diselenggarakan umat Buddha bersama salah satu perusahaan swasta ini menghadirkan suasana kebersamaan lintas etnis, agama, dan budaya, mencerminkan nilai toleransi yang telah lama tumbuh di Bumi Cenderawasih.
Sekitar 1.000 warga dari berbagai latar belakang, mulai dari Jawa, Batak, Padang, Palembang, Bugis, Makassar, Maluku, Manado, hingga Nusa Tenggara Timur dan Barat, duduk bersama mengikuti rangkaian syukuran Imlek dalam suasana penuh kekeluargaan.
Dalam momen tersebut, perbedaan tidak menjadi sekat, melainkan dirajut menjadi kekuatan persaudaraan, sehingga perayaan Imlek benar-benar terasa sebagai milik bersama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Baca juga: Perayaan Imlek 2026 di Jayapura, Ratusan Lampion Hiasi Vihara Arya Dharma
Keberagaman seni dan budaya Nusantara turut mewarnai perayaan, di antaranya tarian Barongsai, tarian Wor khas Biak, tarian etnis Bugis-Makassar, pembacaan puisi, serta pertunjukan komedi tunggal yang mengundang gelak tawa.
Kehadiran beragam kesenian tersebut memperkuat makna Imlek sebagai momentum kebersamaan, sekaligus sarana mempererat hubungan sosial antarwarga dari berbagai latar belakang kehidupan.
Pelaksana Tugas Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap, menegaskan bahwa perbedaan dan keragaman merupakan keniscayaan dalam kehidupan bermasyarakat yang harus disikapi dengan saling menghargai dan menghormati.
Perayaan Imlek dinilainya mampu menjadi ruang perjumpaan yang menyatukan manusia dalam semangat saling mengenal, berbuat kebaikan, serta memperkuat keharmonisan sosial di tengah keberagaman budaya dan keyakinan.
Baca juga: Goa Jepang di Biak, Saksi Bisu Perang Dunia II di Tanah Papua
Pemerintah Kabupaten Biak Numfor menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan perayaan Imlek sebagai bagian dari upaya menjaga persatuan, mempererat hubungan antarumat beragama, serta memupuk toleransi di daerah tersebut.
Dukungan ini sekaligus menjadi komitmen pemerintah daerah dalam merawat keharmonisan sosial sebagai fondasi penting bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Tokoh umat Buddha di Biak Numfor, Susanto Pirono, menyampaikan harapan agar momentum Imlek dapat meningkatkan etos kerja, semangat kebersamaan, serta komitmen untuk terus berbagi kebahagiaan kepada sesama.
Perayaan Imlek juga dimaknai sebagai kesempatan memperkuat nilai kejujuran, ketekunan, kesabaran, dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat, sekaligus meneguhkan semangat pengabdian di Tanah Papua.
Sementara itu, pemuka agama Buddha setempat, Bante Prawira, memanjatkan doa agar perayaan Imlek membawa keberkahan, kesehatan, serta kehidupan yang lebih harmonis bagi seluruh masyarakat Biak Numfor.
Ia mengajak umat Buddha dan seluruh elemen masyarakat untuk terus menebar kebaikan, memperkuat toleransi, serta menjaga persaudaraan demi terwujudnya kehidupan yang damai dan sejahtera.
Rangkaian perayaan Imlek di Biak Numfor pun berlangsung hingga dua pekan ke depan, berakhir pada perayaan Cap Go Meh, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa harmoni dan keberagaman dapat tumbuh subur dalam kehidupan masyarakat Papua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: