PAPUA - Koalisi Masyarakat Sipil menyerukan agar negara segera menghentikan pembangunan batalyon baru dan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Tanah Papua yang dinilai tidak sejalan dengan kehendak serta kepentingan masyarakat Papua.
Seruan tersebut disampaikan melalui siaran pers tertulis yang diterima Jubi, Sabtu (7/2/2026), sebagai respons atas semakin masifnya pembangunan infrastruktur militer dan proyek nasional di wilayah Papua tanpa partisipasi bermakna dari masyarakat adat.
Koalisi Masyarakat Sipil terdiri dari sejumlah organisasi, di antaranya Centra Initiative, Imparsial, PBHI, KPI, HRWG, Raksha Initiative, dan De Jure, yang selama ini konsisten mengadvokasi isu hak asasi manusia, demokrasi, dan keadilan sosial.
Dalam pernyataannya, Koalisi menegaskan dukungan terhadap seruan Sinode GKI di Tanah Papua serta solidaritas bersama dewan adat, tokoh pemuda, dan elemen perjuangan lainnya yang menolak PSN, pembangunan batalyon baru, dan pangkalan militer di Papua.
Menurut Koalisi, pendekatan pembangunan yang dilakukan secara direktif dari pusat, tanpa melibatkan masyarakat setempat, berpotensi besar menimbulkan konflik sosial, merusak tatanan adat, dan memperlebar jurang ketidakpercayaan terhadap negara.
Mereka menilai, berbagai proyek pembangunan di Papua yang tidak melibatkan masyarakat adat justru berisiko gagal, karena mengabaikan kearifan lokal, hak ulayat, serta kebutuhan riil masyarakat di lapangan.
“Mayoritas penduduk Papua adalah masyarakat adat yang harus diberikan perhatian khusus. Pembangunan yang mengabaikan mereka hanya akan melahirkan persoalan baru,” tulis Koalisi dalam siaran persnya.
Koalisi juga menyoroti pembangunan batalyon baru yang dinilai mencerminkan pendekatan militeristik yang sudah tidak relevan dan tidak efektif dalam menyelesaikan persoalan Papua.
Baca juga: Gubernur Dominggus Apresiasi Kepemimpinan Johnny Isir, Sambut Alfred Papare
Alih-alih menciptakan rasa aman, keberadaan batalyon baru justru dianggap memperluas teror, meningkatkan potensi kekerasan, serta membuka ruang terjadinya pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga sipil.
Penambahan pasukan dinilai berpotensi memperburuk situasi keamanan, sekaligus menyulitkan proses akuntabilitas, terutama di wilayah-wilayah terpencil yang minim akses pemantauan publik.
Koalisi mendesak negara untuk melakukan refleksi menyeluruh terhadap kebijakan keamanan di Papua, serta mengevaluasi secara serius keberadaan TNI yang dalam beberapa tahun terakhir dinilai memunculkan eskalasi kekerasan dan pelanggaran HAM.
Dalam pernyataan sikapnya, Koalisi mengajukan empat tuntutan utama kepada pemerintah dan DPR sebagai langkah korektif dalam pembangunan Papua yang lebih adil dan bermartabat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: