PAPUA - Bencana longsor yang melanda Kampung Waa-Banti, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menyebabkan lumpuh totalnya aktivitas masyarakat di wilayah tersebut. Jalur utama yang selama ini menjadi akses vital warga terputus akibat material longsor dan kerusakan badan jalan di sejumlah titik rawan.
Situasi tersebut membuat warga kesulitan memperoleh kebutuhan pokok, mulai dari bahan makanan, minuman, hingga kebutuhan harian lainnya. Kondisi geografis lembah yang dikelilingi lereng curam memperparah dampak longsor dan menghambat mobilitas masyarakat.
Tokoh masyarakat, Natalis Bugaleng, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi yang kini dihadapi warga Waa-Banti. Meski demikian, ia tetap memberikan apresiasi terhadap langkah cepat yang dilakukan PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama Pemerintah Daerah.
“KamI sangat mengapresiasi tim kerja dari PTFI dan Pemerintah Daerah yang sudah langsung turun lapangan menyikapi situasi longsor yang terjadi di lembah Waa-Banti,” ujar Natalis.
Menurutnya, penanganan darurat yang dilakukan saat ini perlu dilanjutkan dengan langkah yang lebih serius dan berkelanjutan. Ia menilai persoalan di Waa-Banti bukan hanya soal longsor sesaat, tetapi menyangkut keamanan jangka panjang masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Baca juga: Longsor Lumpuhkan Waa-Banti, Warga Terisolasi Dan Soroti Dampak Lingkungan Serta Infrastruktur
“Kami berharap agar PTFI dan Pemerintah Daerah lebih serius melihat persoalan ini, untuk membenahi jalan, jembatan dan akses lainnya yang rusak,” katanya.
Natalis menilai jalur utama yang digunakan masyarakat selama ini sebenarnya sudah tidak layak lagi menjadi akses permanen. Kondisi jalan yang berada di lereng jurang dan bekas aliran sungai disebut sangat rentan mengalami longsor setiap musim hujan.
“Adapun jalan utama yang menjadi akses bagi masyarakat setempat adalah tempat yang sudah tidak layak untuk dibangun jalan utama, mengingat di tempat-tempat tersebut lereng jurang dan bekas aliran kali, sudah sering terjadi longsor dan jalan putus,” jelasnya.
Karena itu, ia meminta agar pembangunan kembali akses jalan dan jembatan tidak dilakukan secara tergesa-gesa tanpa kajian mendalam. Menurutnya, perlu ada evaluasi teknis menyeluruh agar masyarakat tidak terus hidup dalam ancaman bencana yang sama.
“Di sarankan kepada tim kerja dan tim ahli PTFI agar mengkaji tempat-tempat tersebut layak untuk bangun jalan dan jembatan atau tidak,” tambah Natalis.
Baca juga: One Day Trip di Jayapura: Jelajahi Mutiara Hitam dari Pagi hingga Malam
Di luar persoalan infrastruktur, Natalis juga menyoroti kondisi lingkungan di sekitar permukiman warga. Ia menyebut masyarakat Waa-Banti selama ini hidup di tengah dampak limbah perusahaan tambang yang dinilai telah merusak ruang hidup masyarakat adat.
“Terlepas dari situasi tersebut, persoalan besar yang sedang dialami oleh masyarakat setempat adalah mereka hidup dalam lingkungan yang penuh dengan limbah PTFI seperti rumah dibangun di pinggir kali limbah perusahaan, tempat berkebun, tempat dusun semuanya sudah kena limbah habis,” ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: