PAPUA – Upaya mahasiswa Papua untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, berujung gagal setelah aksi mereka dihadang aparat keamanan di Kabupaten Mimika.
Peristiwa tersebut terjadi bertepatan dengan kunjungan kerja Wakil Presiden pada 20–21 April 2026. Dalam momentum itu, Forum Independen Mahasiswa West Papua (FIMWP) menggelar aksi guna menyuarakan tuntutan terkait berbagai isu di Papua, termasuk penutupan PT Freeport Indonesia.
Aksi mahasiswa berlangsung di sejumlah titik di Mimika dengan membawa berbagai tuntutan yang mereka anggap mendesak untuk disampaikan langsung kepada pemerintah pusat.
Koordinator aksi, Onan Kobogau, mengatakan bahwa tujuan utama aksi tersebut adalah untuk bertemu langsung dengan Wakil Presiden agar aspirasi mahasiswa dapat didengar tanpa perantara.
“Kami ingin menyampaikan langsung kepada Wakil Presiden, tetapi kami dihalangi ketika mencoba masuk,” ujar Onan dalam pernyataannya.
Menurut Onan, massa aksi telah berupaya mendekati lokasi kunjungan Wakil Presiden. Namun, pengamanan ketat yang dilakukan aparat membuat mereka tidak dapat melanjutkan langkah tersebut.
Baca juga: Papua Perluas Program Dokter Spesialis, Tambah Obgyn Bareng UGM
Ia juga mengungkapkan bahwa sempat terjadi ketegangan di lapangan ketika massa mencoba menembus barikade pengamanan. Meski demikian, situasi tetap terkendali dan tidak dilaporkan adanya bentrokan besar.
Aparat keamanan terlihat melakukan penjagaan berlapis di sekitar area kunjungan guna memastikan agenda Wakil Presiden berjalan sesuai rencana.
Di sisi lain, mahasiswa menilai pembatasan tersebut membuat ruang penyampaian aspirasi menjadi terbatas, terutama dalam momentum penting kunjungan pejabat negara ke daerah.
FIMWP menegaskan bahwa aksi yang mereka lakukan merupakan bagian dari upaya menyuarakan kondisi Papua yang mereka sebut memerlukan perhatian serius dari pemerintah.
Selain itu, mereka juga mengajak masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap isu-isu yang berkembang di wilayah Papua, baik di tingkat lokal maupun internasional.
Onan menyampaikan harapannya agar pesan yang dibawa mahasiswa tetap dapat tersampaikan meskipun tidak berhasil bertemu langsung dengan Wakil Presiden.
“Kami berharap pesan ini bisa tersampaikan melalui media kepada pihak internasional, nasional, maupun masyarakat di tanah Papua, agar dapat diketahui oleh publik,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: