Selasa, 10 FEBRUARI 2026 • 20:16 WIB

Pembangunan Klenteng Pertama di Jayapura Jadi Simbol Kerukunan dan Keberagaman

Author

Wakil Bupati Jayapura, Haris Richard Yocku, SH, saat menghadiri dan mengikuti prosesi peletakan batu pertama pembangunan Klenteng Dharma Agung Sakti di kawasan Rumah Budaya, Sentani, Kabupaten Jayapura, Minggu (19/10/2025). (Jubi)

PAPUA – Wakil Bupati Jayapura, Haris Richard Yocku, SH, menegaskan bahwa pembangunan klenteng pertama di Papua menjadi simbol nyata toleransi, keberagaman, dan semangat kebersamaan antarumat beragama di Kabupaten Jayapura.

Hal tersebut disampaikan saat dirinya menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Klenteng Dharma Agung Sakti di kawasan Rumah Budaya, Sentani, Kabupaten Jayapura, Minggu (19/10/2025), yang menjadi tonggak penting bagi umat Buddha di Tanah Papua.

Pembangunan klenteng ini diharapkan menjadi simbol keharmonisan sekaligus wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan keyakinan, budaya, dan latar belakang masyarakat.

Menurut Haris Richard Yocku, kehadiran rumah ibadah baru tersebut mempertegas posisi Kabupaten Jayapura sebagai wilayah yang menjunjung tinggi nilai toleransi, kebersamaan, dan kehidupan beragama yang rukun.

Baca juga: Harmoni Keberagaman Menjadi Tradisi Perayaan Tahun Baru Imlek di Biak Numfor

Ia menilai pembangunan klenteng sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Kabupaten Jayapura dalam membangun masyarakat yang inklusif, berkeadilan, dan saling menghormati.

Dalam kepemimpinan Bupati Jayapura Dr. Yunus Wonda, SH, MH, bersama dirinya sebagai wakil bupati, pembangunan klenteng ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi sosial dan spiritual masyarakat.

Kehadiran klenteng pertama di Papua ini juga dipandang sebagai anugerah besar bagi daerah, karena tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang spiritual yang mendoakan kedamaian, kemajuan, dan kesejahteraan Kabupaten Jayapura.

Lebih jauh, Yocku menyebut bahwa nilai-nilai budaya Tionghoa yang melekat dalam pembangunan klenteng dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat lokal, khususnya dalam melestarikan tradisi, etika, dan peradaban.

Ia berharap masyarakat Papua dapat mengambil inspirasi dari ketekunan komunitas Tionghoa dalam menjaga warisan budaya selama ribuan tahun, sekaligus memperkuat komitmen melestarikan budaya asli Papua.

Baca juga: Perayaan Imlek 2026 di Jayapura, Ratusan Lampion Hiasi Vihara Arya Dharma

Apresiasi juga disampaikan kepada umat Buddha di Kabupaten Jayapura yang selama ini dinilai konsisten menjaga ketertiban beribadah, menjunjung tinggi toleransi, serta membangun komunikasi harmonis dengan pemerintah dan masyarakat luas.

Haris Richard Yocku menegaskan bahwa Kabupaten Jayapura harus terus menjadi zona integritas kedamaian, tempat seluruh warga dapat hidup berdampingan tanpa rasa takut, diskriminasi, maupun prasangka.

Semangat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, menurutnya, harus terus dirawat melalui sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan menjaga solidaritas sosial.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua, Klemens Taran, menyebut pembangunan Klenteng Dharma Agung Sakti sebagai tonggak bersejarah bagi umat Buddha di Papua yang selama ini beribadah di vihara.

Baca juga: Goa Jepang di Biak, Saksi Bisu Perang Dunia II di Tanah Papua

Ia menilai kehadiran klenteng ini bukan hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga simbol kuat kerukunan umat beragama serta perekat persaudaraan di Tanah Papua.

Melalui Pembimas Buddha, pihaknya berkomitmen mendorong dukungan pemerintah pusat agar pembangunan klenteng tersebut mendapat perhatian penganggaran pada 2026, sehingga dapat segera dimanfaatkan secara optimal oleh umat dan masyarakat luas

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jubi

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU