Minggu, 31 MEI 2026 • 07:52 WIB

Tim Film Pesta Babi Minta Publik Tidak Hakimi Mama Yasinta Moiwend

Author

Mama Yasinta Moiwend bersama masyarakat mengikuti kegiatan nonton bersama pra-peluncuran film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di Kota Jayapura, Papua. (Ist)

PAPUA – Tim kolaborasi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru menghakimi Mama Yasinta Moiwend menyusul pernyataan terbarunya yang menyebut dirinya tidak mengetahui proses pembuatan film yang dalam beberapa adegan menampilkan dirinya.

Permintaan tersebut disampaikan tim kolaborasi melalui siaran pers yang dirilis pada Sabtu (30/5/2026). Mereka menegaskan bahwa Mama Yasinta merupakan tokoh perempuan adat Malind yang telah lama memperjuangkan hak-hak masyarakat adat dan komunitasnya di Papua Selatan.

Tim kolaborasi menyatakan menghormati setiap keputusan dan sikap yang saat ini diambil oleh Mama Yasinta. Mereka juga mengajak publik untuk tidak menyudutkan ataupun memberikan penilaian sepihak terhadap perempuan adat tersebut.

“Kami tim kolaborasi film Pesta Babi menghormati apa pun sikap Mama Yasinta saat ini, dan meminta publik untuk tidak menyudutkan atau menghakimi beliau, sembari kami masih berusaha memahami apa yang terjadi dengan perubahan pilihan sikap ini,” tulis tim kolaborasi dalam pernyataannya.

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan hasil kolaborasi sejumlah organisasi yang terdiri dari Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, dan Watchdoc.

Baca juga: Hal-Hal Unik Yang Dianggap Biasa Oleh Masyarakat Papua Namun Terasa Asing Di Daerah Lain

Menurut tim kolaborasi, sejak beredarnya video pernyataan Mama Yasinta pada 23 Mei 2026 hingga kedatangannya ke Polda Metro Jaya pada 29 Mei 2026, mereka belum berhasil melakukan komunikasi langsung dengan yang bersangkutan.

Mereka mengaku masih berupaya membangun komunikasi dan mencari penjelasan terkait perubahan sikap yang disampaikan Mama Yasinta dalam beberapa waktu terakhir. Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan pihak keluarga untuk memperoleh informasi lebih lanjut.

“Kami terus berusaha membangun komunikasi dengan Mama Yasinta dan berkoordinasi dengan keluarganya,” demikian pernyataan tim kolaborasi.

Di tengah polemik yang berkembang, tim kolaborasi berharap perhatian publik tidak hanya terfokus pada perbedaan pandangan yang muncul, tetapi juga tetap memberikan dukungan terhadap berbagai persoalan yang diangkat dalam film dokumenter tersebut.

Mereka menilai berbagai isu yang dihadapi masyarakat adat di Tanah Papua masih membutuhkan perhatian luas dan solidaritas dari berbagai pihak agar dapat diselesaikan secara adil dan berkelanjutan.

Baca juga: Terompet Tradisional Keerom yang Menjadi Suara Budaya

Sebelumnya, dalam sebuah video yang beredar di publik, Mama Yasinta Moiwend menyatakan dirinya tidak lagi bergabung dengan LBH Papua Merauke. Ia juga mengungkapkan keinginannya untuk mencari pekerjaan di perusahaan guna memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Cari pekerjaan, karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi,” kata Mama Yasinta Moiwend dalam rekaman video yang beredar.

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan ekonomi keluarga menjadi salah satu pertimbangan utama dalam mengambil keputusan tersebut. Menurutnya, ketiga anaknya juga membutuhkan pekerjaan untuk menunjang kehidupan mereka.

Dalam video yang sama, Mama Yasinta menyampaikan bahwa dirinya kini berada di pihak perusahaan, berbeda dengan sikap yang selama ini dikenal publik. Pernyataan itu kemudian menjadi perhatian luas karena dianggap berseberangan dengan aktivitas advokasi yang sebelumnya ia lakukan.

“Dulu itu saya dimanfaatkan, saya diajak oleh orang-orang LBH,” ucapnya.

Perkembangan terbaru terjadi ketika Mama Yasinta mendatangi Polda Metro Jaya pada Jumat (29/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia melaporkan Direktur LBH Papua Merauke berinisial TW terkait penggunaan rekaman dirinya dalam film dokumenter tersebut.

Menurut Mama Yasinta, aktivitas yang terekam dalam film diambil tanpa persetujuan dirinya dan kemudian diputar di berbagai tempat tanpa izin. Karena itu, ia meminta agar pemutaran film tersebut dihentikan.

“Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati. Tanpa izin dari saya. Maka itu saya datang ke Jakarta. Mulai dari hari ini [pemutaran film itu] dihentikan. Seandainya ada yang putar film itu, tolong proses orang itu,” ujar Mama Yasinta Moiwend.

Hingga saat ini, polemik terkait film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita masih menjadi perhatian publik. Sementara tim kolaborasi berupaya membuka ruang komunikasi dengan Mama Yasinta, berbagai pihak berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui dialog dan klarifikasi yang terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas di tengah masyarakat.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jubi

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU