PAPUA - Sorong dikenal luas sebagai Kota Minyak. Namun di balik geliat pembangunan dan aktivitas pelabuhannya saat ini, kota yang berada di ujung barat Pulau Papua tersebut menyimpan sejarah panjang yang membentuk perannya sebagai salah satu pusat ekonomi terpenting di kawasan timur Indonesia.
Sebagai ibu kota Provinsi Papua Barat Daya, Sorong kini menjadi wajah pertama yang ditemui banyak orang ketika menginjakkan kaki di Tanah Papua. Posisinya yang strategis menjadikan kota ini sebagai gerbang utama menuju Raja Ampat, Papua Barat Daya, dan berbagai wilayah lain di Pulau Papua.
Secara geografis, Sorong berada di pesisir barat Pulau Papua dan berhadapan langsung dengan Selat Dampier. Wilayahnya terdiri dari dataran rendah, perbukitan, hingga kawasan hutan tropis yang masih cukup luas dan menjadi bagian penting dari ekosistem Papua.
Sebelum berkembang menjadi kota modern, kawasan Sorong telah lama dikenal oleh masyarakat pelaut dari Kepulauan Biak Numfor. Dari sinilah asal-usul nama Sorong bermula.
Menurut sejumlah catatan sejarah, nama Sorong berasal dari kata "Soren" dalam bahasa Biak yang berarti laut yang dalam dan bergelombang. Sebutan tersebut diberikan oleh para pelaut Biak yang sering berlayar dan singgah di kawasan pesisir barat Papua.
Seiring berjalannya waktu, kata "Soren" mengalami perubahan pelafalan akibat interaksi dengan pedagang Tionghoa, misionaris Eropa, serta masyarakat Maluku dan Sangihe yang datang ke wilayah tersebut. Nama itu kemudian berkembang menjadi "Sorong" dan terus digunakan hingga sekarang.
Baca juga: Biak, Gerbang Sejarah Papua yang Menyimpan Jejak Perang dan Legenda Nusantara
Perjalanan besar Sorong dimulai ketika sumber minyak bumi ditemukan di wilayah Semenanjung Doberai pada awal abad ke-20. Penemuan tersebut mengubah Sorong dari kawasan pesisir yang relatif sepi menjadi pusat perhatian pemerintah kolonial Belanda.
Pada tahun 1908, eksplorasi minyak mulai dilakukan secara serius. Aktivitas perminyakan terus berkembang hingga pada 1932 pengeboran sumur minyak pertama berhasil dilakukan di kawasan Sorong.
Tiga tahun kemudian, perusahaan minyak Belanda Royal Dutch Shell melalui anak perusahaannya, Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM), mulai mengelola industri minyak bumi secara besar-besaran di wilayah tersebut.
Keberadaan minyak bumi membuat Sorong berkembang pesat. Infrastruktur mulai dibangun, tenaga kerja didatangkan dari berbagai daerah, dan kawasan ini perlahan berubah menjadi pusat industri penting di wilayah Papua.
Ketika Perang Dunia II meletus di kawasan Pasifik, posisi Sorong menjadi sangat strategis. Pada tahun 1942, pasukan Jepang berhasil menduduki wilayah tersebut dan menjadikannya salah satu basis pertahanan militer utama.
Baca juga: Batik Papua, Warisan Budaya Timur yang Kian Mendunia
Jepang menempatkan ribuan personel militer di Sorong serta membangun berbagai fasilitas perang, termasuk lapangan udara dan instalasi pertahanan yang digunakan untuk menghadapi serangan Sekutu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: