PAPUA - Kota Jayapura dikenal sebagai salah satu wilayah paling majemuk di Papua. Selain menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan, kota ini juga menjadi rumah bagi berbagai komunitas adat yang masih mempertahankan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Di tengah perkembangan kota dan arus modernisasi, bahasa-bahasa asli Jayapura tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat adat. Bahasa daerah tidak hanya digunakan dalam komunikasi sehari-hari, tetapi juga hadir dalam upacara adat, lagu tradisional, cerita rakyat, hingga simbol kekerabatan antar marga.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura mencatat terdapat sejumlah bahasa asli yang berkembang di wilayah adat sekitar Jayapura. Beberapa di antaranya berasal dari Kampung Skouw, Nafri, Kayu Pulo, Kayu Batu, hingga wilayah Sentani yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan budaya Papua.
Setiap bahasa memiliki dialek dan karakter tersendiri. Bahasa Skouw misalnya dikenal berkembang di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini dan memiliki pengaruh budaya pesisir yang kuat. Bahasa ini digunakan masyarakat adat dalam berbagai aktivitas sosial dan adat di kawasan Skouw.
Sementara itu, Bahasa Nafri menjadi bagian penting dari identitas masyarakat adat di Distrik Abepura dan sekitarnya. Bahasa tersebut diwariskan turun-temurun dan masih digunakan dalam percakapan keluarga maupun kegiatan adat masyarakat setempat.
Baca juga: Begini Sejarah Hari Lahir Pancasila dan Makna 1 Juni bagi Indonesia
Di kawasan Teluk Youtefa, masyarakat Kayu Pulo dan Kayu Batu juga memiliki bahasa daerah yang unik. Kampung-kampung tua ini dikenal sebagai salah satu pusat budaya pesisir Jayapura yang menyimpan banyak cerita sejarah tentang kehidupan masyarakat adat Papua di masa lampau.
Bahasa Kayu Pulo dan Kayu Batu memiliki hubungan erat dengan tradisi maritim masyarakat setempat. Banyak istilah lokal yang berkaitan dengan laut, perahu tradisional, hingga aktivitas menangkap ikan yang menjadi bagian kehidupan warga sejak dahulu.
Selain wilayah pesisir, Bahasa Sentani menjadi salah satu bahasa daerah terbesar dan paling dikenal di Papua. Bahasa ini digunakan masyarakat di sekitar Danau Sentani yang tersebar di sejumlah kampung adat di Kabupaten Jayapura.
Bahasa Sentani tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari tradisi budaya yang kaya. Banyak lagu daerah, tarian adat, hingga ukiran khas Sentani menggunakan istilah dan filosofi yang berasal dari bahasa lokal tersebut.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku S.Pd., M.Pd., pernah menyampaikan bahwa bahasa daerah memiliki nilai penting dalam menjaga jati diri masyarakat asli Papua. Menurutnya, bahasa lokal menjadi penghubung generasi muda dengan sejarah leluhur mereka.
“Bahasa daerah adalah identitas budaya masyarakat Papua. Kalau anak-anak muda memahami bahasa daerahnya, maka mereka juga memahami sejarah dan akar budayanya,” ujarnya dalam keterangannya kepada wartawan.
Baca juga: Sidang BPUPKI Jadi Pondasi Kemerdekaan, Dari Perdebatan Dasar Negara hingga Lahirnya Pancasila
Menurut Grace, perkembangan teknologi dan penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan perkotaan membuat generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa ibu di lingkungan keluarga. Namun di sisi lain, hal itu juga menjadi tantangan agar bahasa daerah dapat terus dikenalkan dengan cara yang lebih modern dan menarik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: