Pemandangan pesisir Pulau Biak di Kabupaten Biak Numfor, Papua. (Ist)
PAPUA - Biak bukan sekadar sebuah kota di pesisir utara Papua. Pulau yang kini menjadi pusat Kabupaten Biak Numfor itu menyimpan kisah panjang yang memadukan sejarah, budaya, legenda, hingga jejak perang dunia yang masih dapat ditemukan hingga sekarang.
Terletak di kawasan Samudra Pasifik, Biak sejak lama dikenal sebagai wilayah strategis yang menjadi jalur pelayaran penting bagi masyarakat Papua. Letaknya yang berada di antara jalur perdagangan maritim menjadikan pulau ini berkembang sebagai pusat interaksi budaya dan ekonomi sejak berabad-abad lalu.
Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakat Biak telah dikenal sebagai pelaut ulung yang menguasai lautan timur Nusantara. Kemampuan navigasi mereka memungkinkan pelayaran hingga ke Kepulauan Maluku, Raja Ampat, bahkan pesisir utara Papua. Kehidupan masyarakat Biak sangat erat dengan laut yang menjadi sumber kehidupan sekaligus identitas budaya mereka.
Catatan sejarah menyebutkan kontak pertama Biak dengan bangsa Eropa terjadi pada tahun 1616. Saat itu dua penjelajah Belanda, Jacob Le Maire dan Willem Cornelisz Schouten, melintasi kawasan kepulauan tersebut dalam ekspedisi pelayaran mereka di Pasifik.
Baca juga: Batik Papua, Warisan Budaya Timur yang Kian Mendunia
Kedua penjelajah itu kemudian menamai gugusan pulau tersebut sebagai Schouten Eilanden atau Kepulauan Schouten. Peristiwa tersebut menjadi awal masuknya pengaruh luar yang perlahan menghubungkan masyarakat Biak dengan dunia internasional.
Meski demikian, masyarakat adat Biak tetap mempertahankan tradisi dan adat istiadat mereka. Budaya maritim, sistem kekerabatan, bahasa daerah, serta berbagai ritual adat terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini.
Nama Biak semakin dikenal dunia ketika Perang Dunia II pecah di kawasan Pasifik pada awal 1940-an. Posisi geografisnya yang strategis membuat pulau ini menjadi salah satu basis pertahanan penting militer Jepang.
Pada tahun 1944, Biak menjadi lokasi pertempuran besar antara pasukan Sekutu dan Jepang. Operasi militer yang berlangsung selama beberapa bulan itu menjadi salah satu pertempuran paling menentukan dalam upaya Sekutu merebut kembali wilayah Pasifik dari kekuasaan Jepang.
Salah satu peninggalan sejarah paling terkenal dari masa perang tersebut adalah Bandara Frans Kaisiepo. Bandara ini awalnya merupakan landasan udara militer yang dibangun untuk mendukung operasi Sekutu di kawasan Pasifik.
Baca juga: Belajar Bahasa Papua Sehari-Hari, Ini Yang Perlu Kamu Ketahui
Selain bandara, berbagai situs sejarah perang masih dapat ditemukan di Biak hingga sekarang. Gua-gua pertahanan Jepang, bunker militer, terowongan bawah tanah, serta sejumlah peninggalan perang menjadi saksi bisu peristiwa yang pernah mengguncang wilayah tersebut.
Namun Biak tidak hanya dikenal karena sejarah peperangannya. Pulau ini juga kaya akan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat adat.
Salah satu legenda paling terkenal adalah kisah Korben, seekor ular naga raksasa yang dipercaya hidup di wilayah tertentu di Biak. Dalam cerita masyarakat setempat, Korben digambarkan memiliki tubuh bersisik hijau dengan empat kaki dan ukuran yang sangat besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: