PAPUA - Sejumlah lapak pedagang di Pantai Yahim, Kelurahan Dobonsolo, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, terendam air luapan Danau Sentani dalam beberapa hari terakhir.
Kenaikan debit air danau dipicu oleh tingginya curah hujan yang terjadi secara terus-menerus, sehingga menyebabkan genangan meluas hingga ke kawasan permukiman warga.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada aktivitas perdagangan di kawasan pantai.
Para pedagang tidak dapat menjalankan usaha mereka seperti biasa karena lapak yang digunakan telah terendam air.
Baca juga: Bayi warga binaan Manokwari tetap dapat layanan kesehatan
Selain itu, dermaga di Pantai Yahim yang menjadi pusat aktivitas transportasi masyarakat juga ikut terdampak.
Dermaga tersebut selama ini menjadi jalur utama bagi warga dari 11 kampung di seberang Danau Sentani untuk menuju Kota Sentani.
Kampung-kampung tersebut antara lain Babrongko, Simporo, Kameyakha, Atamali, Abar, Putali, Kensio, Yoboi, Hobong, Ifale, dan Ifar Besar.
Tidak hanya sebagai jalur transportasi, dermaga Yahim juga digunakan sebagai tempat penitipan ratusan sepeda motor milik warga.
Baca juga: Kolaborasi pembangunan: Econusa dan Pemkab Kaimana gelar workshop berkelanjutan
Seorang warga setempat, Ruth Felle, mengatakan kondisi ini membuat fasilitas umum tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Ia menyebut genangan air membuat aktivitas jual beli terhenti karena lokasi yang biasa digunakan telah tergenang.
Menurutnya, jumlah pembeli juga mengalami penurunan drastis karena akses menuju lokasi terendam air.
Situasi tersebut juga mulai berdampak pada permukiman warga di sekitar pesisir danau yang kini mulai terendam.
Warga pun mulai merasa khawatir dan mempertimbangkan untuk mengungsi jika kondisi terus memburuk.
Mereka menilai jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, maka genangan air akan semakin meluas dan mengancam keselamatan.
Baca juga: PWI Kaimana : Pendaftaran Calon Ketua Resmi Dibuka untuk Periode 2026–2029
Fenomena naiknya air Danau Sentani disebut warga terjadi hampir setiap tahun, bahkan pernah memaksa relokasi aktivitas ekonomi ke lokasi lain.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan, termasuk menyalurkan bantuan dan menyediakan tempat usaha yang lebih aman.
Kepala Distrik Sentani, Jack Judzoon Puraro, menjelaskan bahwa kenaikan air terjadi karena curah hujan tinggi yang tidak diimbangi dengan kelancaran aliran keluar air.
Ia menyebut adanya penumpukan kayu dan sampah di Kali Itauwfili menjadi penyebab utama tersumbatnya aliran air.
Baca juga: Wisuda STIH Manokwari: 224 Sarjana Hukum Lulus, Kampus Bersiap Bertransformasi Menjadi Institut
Pemerintah distrik bersama masyarakat berencana melakukan survei dan pembersihan aliran sungai secara gotong royong.
Langkah tersebut akan melibatkan berbagai pihak, termasuk aparat keamanan dan masyarakat dari beberapa wilayah sekitar.
Warga juga mengusulkan penggunaan alat berat untuk mempercepat proses pembersihan, khususnya untuk mengangkat kayu berukuran besar.
Hingga saat ini, masyarakat masih bertahan di rumah masing-masing sambil terus memantau kondisi debit air yang berpotensi meningkat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jubi