Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 23:59 WIB

Asal-Usul nama "Jayapura": Sejarah Panjang Kota Kemenangan di Tanah Papua

Author

Tampak peta wilayah Kota Jayapura (peta kota)

PAPUA - Kota Jayapura memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan dinamis, mencerminkan perubahan politik, kekuasaan, serta perkembangan sosial dan budaya di Tanah Papua sejak era kolonial hingga masa Indonesia modern.

Sejarah Jayapura bermula dari penjelajahan bangsa Eropa di kawasan Teluk Humboldt pada tahun 1768, ketika pelaut Prancis L.A. de Bougainville pertama kali singgah di teluk yang kini menjadi bagian penting wilayah kota.

Penjelajahan itu dilanjutkan oleh Dumont d’Urville pada tahun 1827, yang kemudian menamai kawasan tersebut sebagai Teluk Humboldt, merujuk pada karakter geografisnya yang unik dan strategis di pesisir utara Papua.

Memasuki awal abad ke-20, Belanda mulai aktif memperluas pengaruhnya di wilayah ini, hingga pada 7 Maret 1910, Kapten Infanteri F.J.P. Sachse mendirikan sebuah permukiman yang diberi nama Hollandia, yang kemudian berkembang menjadi pusat administrasi pemerintahan kolonial di bagian timur laut Papua.

Pada masa awal, Hollandia berkembang relatif lambat, namun situasi berubah drastis ketika Perang Dunia II pecah, menjadikan wilayah ini sebagai titik strategis penting dalam peta pertahanan militer di kawasan Pasifik.

Baca juga: Kasus Thobias Silak: Terpidana Diduga Berkeliaran, Publik Jayawijaya Soroti Integritas Penegakan Hukum

Tahun 1942, Jepang menduduki Hollandia dan mengubah namanya menjadi Kota Baru atau Sukarnapura, menandai babak baru penguasaan wilayah ini dalam konteks perang global yang berkecamuk di kawasan Asia-Pasifik.

Kedatangan pasukan Sekutu pada 21 April 1944 melalui pendaratan amfibi di sekitar Hollandia mengakhiri pendudukan Jepang, sekaligus menjadikan wilayah ini sebagai markas besar Jenderal Douglas MacArthur hingga Maret 1945.

Keberadaan sekitar 20 pangkalan militer Amerika Serikat serta lalu lintas ratusan ribu personel menjadikan kawasan ini berkembang pesat, baik dari sisi infrastruktur maupun peran strategisnya di kawasan timur Nusantara.

Pasca Perang Dunia II, Belanda kembali mengambil alih pemerintahan pada 1946, dan Hollandia kembali berfungsi sebagai pusat administrasi hingga pusat pemerintahan dipindahkan ke Hollandia Haven pada 1958, yang kini dikenal sebagai Jayapura Utara.

Memasuki masa peralihan menuju integrasi dengan Indonesia, wilayah ini diserahkan kepada UNTEA pada 31 Desember 1962, dan namanya diubah menjadi Kota Baru, sebelum Presiden Soekarno menggantinya menjadi Sukarnopura pada 1 Mei 1963.

Pergantian kekuasaan nasional setelah peristiwa G30S/PKI membawa perubahan besar, termasuk penghapusan simbol-simbol era Soekarno, sehingga pada 1968 nama Sukarnopura resmi diubah menjadi Jayapura, yang berarti “Kota Kemenangan”.

Baca juga: Pertamina Hadirkan Air Bersih untuk Kampung Tambat Merauke

Seiring waktu, Jayapura berkembang pesat sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, perdagangan, dan pendidikan, hingga pada 14 September 1979 diresmikan sebagai Kota Administratif oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud.

Dalam era otonomi daerah, Jayapura semakin mengokohkan posisinya sebagai pusat regional di Papua, sekaligus menjadi kota modern dan gerbang utama bagi mobilitas, perdagangan, serta pengembangan kawasan timur Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU