Sabtu, 30 MEI 2026 • 18:04 WIB

Sorong, Kota Minyak yang Menjadi Gerbang Papua Barat Daya

Author

Suasana Kota Sorong dengan latar kawasan pelabuhan dan aktivitas perkotaan di Papua Barat Daya. (Ist)

PAPUA - Sorong dikenal luas sebagai Kota Minyak. Namun di balik geliat pembangunan dan aktivitas pelabuhannya saat ini, kota yang berada di ujung barat Pulau Papua tersebut menyimpan sejarah panjang yang membentuk perannya sebagai salah satu pusat ekonomi terpenting di kawasan timur Indonesia.

Sebagai ibu kota Provinsi Papua Barat Daya, Sorong kini menjadi wajah pertama yang ditemui banyak orang ketika menginjakkan kaki di Tanah Papua. Posisinya yang strategis menjadikan kota ini sebagai gerbang utama menuju Raja Ampat, Papua Barat Daya, dan berbagai wilayah lain di Pulau Papua.

Secara geografis, Sorong berada di pesisir barat Pulau Papua dan berhadapan langsung dengan Selat Dampier. Wilayahnya terdiri dari dataran rendah, perbukitan, hingga kawasan hutan tropis yang masih cukup luas dan menjadi bagian penting dari ekosistem Papua.

Sebelum berkembang menjadi kota modern, kawasan Sorong telah lama dikenal oleh masyarakat pelaut dari Kepulauan Biak Numfor. Dari sinilah asal-usul nama Sorong bermula.

Menurut sejumlah catatan sejarah, nama Sorong berasal dari kata "Soren" dalam bahasa Biak yang berarti laut yang dalam dan bergelombang. Sebutan tersebut diberikan oleh para pelaut Biak yang sering berlayar dan singgah di kawasan pesisir barat Papua.

Seiring berjalannya waktu, kata "Soren" mengalami perubahan pelafalan akibat interaksi dengan pedagang Tionghoa, misionaris Eropa, serta masyarakat Maluku dan Sangihe yang datang ke wilayah tersebut. Nama itu kemudian berkembang menjadi "Sorong" dan terus digunakan hingga sekarang.

Baca juga: Biak, Gerbang Sejarah Papua yang Menyimpan Jejak Perang dan Legenda Nusantara

Perjalanan besar Sorong dimulai ketika sumber minyak bumi ditemukan di wilayah Semenanjung Doberai pada awal abad ke-20. Penemuan tersebut mengubah Sorong dari kawasan pesisir yang relatif sepi menjadi pusat perhatian pemerintah kolonial Belanda.

Pada tahun 1908, eksplorasi minyak mulai dilakukan secara serius. Aktivitas perminyakan terus berkembang hingga pada 1932 pengeboran sumur minyak pertama berhasil dilakukan di kawasan Sorong.

Tiga tahun kemudian, perusahaan minyak Belanda Royal Dutch Shell melalui anak perusahaannya, Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM), mulai mengelola industri minyak bumi secara besar-besaran di wilayah tersebut.

Keberadaan minyak bumi membuat Sorong berkembang pesat. Infrastruktur mulai dibangun, tenaga kerja didatangkan dari berbagai daerah, dan kawasan ini perlahan berubah menjadi pusat industri penting di wilayah Papua.

Ketika Perang Dunia II meletus di kawasan Pasifik, posisi Sorong menjadi sangat strategis. Pada tahun 1942, pasukan Jepang berhasil menduduki wilayah tersebut dan menjadikannya salah satu basis pertahanan militer utama.

Baca juga: Batik Papua, Warisan Budaya Timur yang Kian Mendunia

Jepang menempatkan ribuan personel militer di Sorong serta membangun berbagai fasilitas perang, termasuk lapangan udara dan instalasi pertahanan yang digunakan untuk menghadapi serangan Sekutu.

Pendudukan Jepang berlangsung hingga tahun 1944 ketika kekuatan Sekutu mulai merebut kembali wilayah-wilayah penting di Pasifik. Berakhirnya perang kemudian membuka babak baru bagi perkembangan Sorong.

Pasca Perang Dunia II, industri minyak kembali menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Produksi minyak bumi mengalami peningkatan signifikan dan menjadikan Sorong sebagai salah satu kawasan industri paling penting di Nugini Belanda saat itu.

Pada tahun 1954, produksi minyak di Sorong mencapai puncaknya dengan nilai ekspor yang sangat besar. Industri tersebut menjadi salah satu alasan utama Belanda berupaya mempertahankan wilayah Papua dari pengaruh politik yang berkembang saat itu.

Memasuki awal 1960-an, perubahan geopolitik mulai terjadi. Setelah penyerahan Irian Barat kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), wilayah Sorong akhirnya resmi menjadi bagian dari Republik Indonesia pada 1 Mei 1963.

Sejak bergabung dengan Indonesia, pembangunan Sorong terus mengalami percepatan. Statusnya yang semula hanya sebuah kecamatan berkembang menjadi kota administratif pada tahun 1996 sebelum akhirnya ditetapkan sebagai kota otonom melalui Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999.

Perubahan terbesar kembali terjadi pada tahun 2022 ketika pemerintah membentuk Provinsi Papua Barat Daya. Dalam pemekaran tersebut, Sorong dipercaya menjadi ibu kota provinsi baru sekaligus pusat pemerintahan di wilayah paling barat Pulau Papua.

Baca juga: Belajar Bahasa Papua Sehari-Hari, Ini Yang Perlu Kamu Ketahui

Saat ini, Sorong tidak lagi hanya dikenal sebagai kota penghasil minyak. Kota ini telah berkembang menjadi pusat perdagangan, jasa, pendidikan, transportasi, dan pariwisata yang melayani berbagai kebutuhan masyarakat di Papua Barat Daya.

Pelabuhan Sorong menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di kawasan timur Indonesia. Letaknya yang dekat dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) membuat kota ini memiliki posisi penting dalam jalur pelayaran nasional maupun internasional.

Selain kekuatan ekonominya, Sorong juga memiliki daya tarik wisata yang luar biasa. Kota ini menjadi pintu masuk utama menuju Raja Ampat yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari terbaik di dunia.

Perjalanan sejarah Sorong menunjukkan bagaimana sebuah kawasan pesisir yang dahulu dikenal para pelaut Biak mampu berkembang menjadi kota modern dengan peran strategis bagi Indonesia. Dari era minyak bumi, masa perang dunia, hingga menjadi ibu kota provinsi baru, Sorong terus menegaskan posisinya sebagai gerbang utama Tanah Papua menuju dunia.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU