Selasa, 30 DESEMBER 2025 • 02:38 WIB

Tragedi Kemanusiaan di Gearek Nduga, Anak Tujuh Tahun Dilaporkan Tertembak dan Jasad Tak Ditemukan

Author

Para pengungsi dari Distrik Gearek, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, saat berjumpa dengan rombongan camat dan mahasiswa di tengah perjalanan menuju Kenyam, Desember 2025, setelah melarikan diri dari kampung akibat situasi keamanan yang mencekam. (Jubi)

PAPUA — Sebuah laporan tertulis yang disusun berdasarkan hasil investigasi Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) bersama Tim Kemanusiaan mengungkap peristiwa kekerasan serius yang dialami warga sipil di Distrik Gearek, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. Laporan tersebut disampaikan oleh Yefta Lengka, aktivis kemanusiaan sekaligus anggota Tim Kemanusiaan, dan disusun setelah pemantauan lapangan selama sembilan hari.

Tim Kemanusiaan yang dipimpin Direktur Eksekutif YKKMP, Theo Hesegem, mencatat bahwa pada 10 Desember 2025 terjadi aktivitas pemantauan udara oleh TNI menggunakan tiga helikopter di langit Distrik Gearek. Kehadiran helikopter tersebut disebut menimbulkan kepanikan karena tidak disertai penjelasan kepada masyarakat setempat.

Keesokan harinya, pada 11 Desember 2025, aktivitas udara kembali terjadi dengan intensitas lebih tinggi. Tiga helikopter dan tiga drone dilaporkan memantau wilayah Gearek, sebelum salah satu helikopter mendarat dan menurunkan aparat di Kampung Wene Worasosa.

Menurut laporan investigasi, sebelum pendaratan aparat, terjadi penembakan dari udara ke arah pinggiran rumah warga serta pelemparan mortir sebanyak tiga kali. Situasi ini membuat warga kampung dan daerah sekitarnya diliputi ketakutan dan kebingungan.

Baca juga: Rentetan Kekerasan Menjelang Akhir Tahun Guncang Dekai

Melihat kondisi tersebut, masyarakat Kampung Wene Worasosa memilih melarikan diri ke arah hutan Kali Mbunu untuk menyelamatkan diri. Mereka bertahan di hutan selama satu hari sebelum bergerak menuju Enggolok dan bermalam di sana, lalu melanjutkan perjalanan ke Terminal Wendama untuk menuju Kenyam.

Dalam perjalanan, para pengungsi berjalan kaki hingga Kampung Nggeni dan bertemu rombongan Camat bersama mahasiswa yang menggunakan enam kendaraan. Rombongan pengungsi akhirnya tiba di Kenyam pada 14 Desember 2025 dan ditempatkan di SD Inpres Kenyam dengan tiga ruang kelas yang difungsikan sebagai tempat tinggal sementara.

Laporan mencatat jumlah pengungsi secara keseluruhan mencapai sekitar 580 jiwa. Dari jumlah tersebut, 71 orang mengungsi ke Kenyam, sementara lainnya menyebar ke hutan dan kampung tetangga, termasuk Kali Mbunu, Enggolok, Sanelak, Pasir Putih, Tribit, Yunusugu, dan Nggebem, dengan kondisi kepulangan yang bervariasi.

Tim Kemanusiaan menyebut bahwa serangan yang terjadi berlangsung tanpa adanya perlawanan dari warga sipil. Bunyi helikopter, tembakan, dan ledakan mortir menyebabkan masyarakat menyelamatkan diri dalam kondisi darurat, tanpa membawa barang apapun, dengan tujuan utama mempertahankan nyawa.

Setelah operasi berlangsung selama satu hari satu malam, aparat dilaporkan meninggalkan Kampung Wene Worasosa pada pagi hari berikutnya. Hingga Tim Kemanusiaan turun ke lapangan untuk melakukan investigasi, pemantauan, dan pemasangan baliho kemanusiaan, aparat tidak kembali ke lokasi tersebut.

Dalam peristiwa tersebut, laporan investigasi menemukan dugaan penembakan terhadap seorang anak perempuan berusia tujuh tahun bernama Arestina Giban. Anak tersebut dilaporkan tertembak di bagian kepala saat berada di gendongan ibunya yang berusaha melarikan diri ke hutan bersama anak pertamanya.

Baca juga: Mimika Sambut Tahun Baru dengan Kesederhanaan dan Doa Bersama

Akibat luka tembak yang sangat parah, Arestina Giban dilaporkan meninggal di tempat. Ibunya yang juga mengalami luka akibat serpihan mortir tidak mampu mengambil jasad anaknya dan terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan diri bersama anak pertamanya di tengah situasi yang dinilai sangat tidak aman.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa jasad Arestina Giban tidak ditemukan setelah kejadian. Upaya pencarian selama beberapa hari oleh warga dan Tim Kemanusiaan tidak membuahkan hasil, meskipun ditemukan indikasi lokasi penguburan yang diduga berisiko untuk didekati.

Selain korban anak, laporan mencatat meninggalnya seorang pengungsi bernama Elius Baye (35) di Kampung Yunusugu, Distrik Tomor, Kabupaten Asmat. Elius yang sebelumnya dalam kondisi sakit dilaporkan meninggal dunia setelah dua hari berada di pengungsian akibat kejadian di Gearek.

Hingga kini, ibu Arestina Giban dilaporkan masih berada di pengungsian dalam kondisi pemulihan, sementara rumahnya mengalami kerusakan berat. Tim Kemanusiaan menegaskan perlunya perhatian serius terhadap situasi kemanusiaan di Nduga, khususnya perlindungan warga sipil di tengah operasi keamanan yang berlangsung.

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU