Sabtu, 28 MARET 2026 • 22:02 WIB

TPNPB Klaim Serangan di Maybrat, 8 Aparat Tewas

Author

Dua pucuk senjata yang diklaim disita oleh TPNPB Kodap IV Sorong Raya, yakni FN Minimi MK3 dan senjata jenis M4. (papuanewsonline)

PAPUA - Situasi keamanan di Kabupaten Maybrat kembali menjadi sorotan setelah TPNPB Kodap IV Sorong Raya mengklaim telah melakukan serangan terhadap pos militer Indonesia di wilayah tersebut.

Dalam pernyataan resminya, kelompok tersebut menyebut serangan terjadi di Kampung Sori, Distrik Aifat Selatan, pada 22 Maret 2026. Aksi tersebut diklaim sebagai bagian dari operasi bersenjata yang mereka jalankan di wilayah Papua.

TPNPB menyatakan bahwa serangan itu dipimpin langsung oleh Komandan Operasi Kodap IV Sorong Raya, Mayor Manfred Fatem, bersama pasukan di lapangan.

Dalam klaimnya, TPNPB menyebutkan bahwa delapan aparat militer Indonesia tewas dalam insiden tersebut. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak TNI terkait jumlah korban yang disebutkan.

Selain itu, kelompok tersebut juga mengklaim berhasil menyita sejumlah senjata dan amunisi dari lokasi kejadian.

Baca juga: Tata Kelola RS Papua Dipercepat, Pemerintah Turun Tangan

Di antaranya satu pucuk senjata FN Minimi MK3 buatan Belgia, satu pucuk senjata M4, dua unit magazen, serta 49 butir amunisi kaliber 5.56.

Seluruh peralatan militer yang disita tersebut, menurut mereka, telah dijadikan sebagai bagian dari logistik tempur untuk operasi selanjutnya.

TPNPB juga menyatakan bahwa aksi yang mereka lakukan merupakan bagian dari perjuangan untuk kemerdekaan Papua.

Dalam pernyataan yang sama, mereka menuntut pemerintah Indonesia untuk mengakui keberadaan TPNPB sebagai pihak yang berjuang secara politik, serta menghentikan penyebutan sebagai kelompok kriminal.

Mereka juga meminta kepada Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI Agus Subianto untuk mengakui anggota mereka yang gugur dalam pertempuran di wilayah Maybrat.

Selain isu militer, TPNPB turut menyoroti dampak kemanusiaan akibat konflik yang terjadi di Papua.

Mereka mengklaim bahwa konflik berkepanjangan telah menyebabkan lebih dari 100 ribu warga sipil mengungsi secara internal di berbagai wilayah Tanah Papua.

Dalam hal ini, TPNPB meminta adanya perhatian dan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat sipil yang terdampak konflik bersenjata.

Kelompok tersebut juga mendesak agar aparat militer ditarik dari wilayah pemukiman warga sipil dan menghentikan tindakan yang mereka sebut sebagai penangkapan serta penembakan terhadap masyarakat.

Baca juga: Diskon Avtur 10 Persen, Pertamina Dukung Penerbangan Lebaran

Lebih lanjut, TPNPB menegaskan bahwa mereka tidak membutuhkan pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, melainkan fokus pada perjuangan politik yang mereka jalankan.

Mereka bahkan mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai klaim pemerintah terkait kondisi keamanan di wilayah Maybrat.

Dalam pernyataan penutupnya, TPNPB juga mengeluarkan ultimatum kepada pihak-pihak yang mereka anggap sebagai bagian dari jaringan intelijen agar meninggalkan wilayah yang mereka sebut sebagai zona konflik.

Situasi ini menunjukkan bahwa dinamika keamanan di Papua, khususnya di wilayah Maybrat, masih memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari aparat keamanan Indonesia terkait klaim serangan dan jumlah korban yang disampaikan oleh TPNPB tersebut.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU