PAPUA – Setiap kali memasuki November dan Desember, suasana Kota Jayapura berubah drastis. Aroma belerang yang menyengat, bunyi petasan, hingga dentuman meriam buatan anak-anak dan remaja menjadi penanda khas bahwa musim Natal dan Tahun Baru telah dekat. Tradisi ini begitu melekat dalam ingatan kolektif masyarakat, seolah menjadi ritual wajib setiap kali akhir tahun tiba.
Meski tidak ada catatan pasti kapan tradisi ini dimulai, masyarakat Jayapura mengenalnya sejak dekade 1980–1990-an. Pada masa itu, anak-anak dan remaja di berbagai kompleks mengumpulkan kaleng bekas atau bambu untuk membuat meriam sederhana. Minyak tanah menjadi bahan bakar utama, dan bunyi ledakan yang dihasilkan menjadi hiburan gratis menjelang perayaan Natal.
Seiring perkembangan zaman, permainan meriam pun ikut berevolusi. Bahan peledak yang sebelumnya menggunakan minyak tanah beralih ke karbit pada awal 1990-an. Pipa kaleng atau bambu digantikan pipa besi berukuran besar, yang dibawa ke puncak-puncak bukit di Abepura, Polimak, hingga sekitar Lingkaran Abe. Suara dentumannya jauh lebih keras, menggelegar seperti ledakan bom kecil yang mengguncang tanah dan kaca rumah warga.
Baca juga: Jampidum Kejagung Pacu Penerapan Pidana Kerja Sosial di Papua Jelang Berlaku KUHP Baru
Bagi sebagian orang dewasa yang tumbuh pada era itu, permainan meriam karbit meninggalkan kenangan yang kuat. Bunyi dentumannya yang keras, aktivitas membuat pondok darurat di bukit, serta adu suara meriam antar-kelompok menjadi bagian tak terpisahkan dari romantika masa remaja. Namun, permainan ini juga tidak bebas dari risiko: ledakan yang gagal, api yang menyambar wajah, hingga anak-anak yang menjadi korban luka bakar menjadi cerita yang sering diingat.
Memasuki tahun 2000-an dan setelahnya, suara meriam karbit perlahan memudar. Anak-anak generasi baru kemudian menemukan cara lain: meriam spirtus. Dengan bahan bakar alkohol denaturasi dan pipa buatan sendiri dari kaleng bekas, permainan ini dengan cepat menjadi tren. Lebih murah dan mudah dibuat, meriam spirtus kini dimainkan oleh anak-anak usia SD hingga SMP di berbagai sudut Kota Jayapura.
Namun, kepopuleran meriam spirtus justru memunculkan masalah baru. Permainan ini bukan lagi hanya dilakukan di bukit-bukit atau lapangan kosong, tetapi di tepi jalan raya hingga samping rumah warga. Suara ledakannya mengganggu waktu istirahat, membuat pengendara motor kaget, dan beberapa insiden bahkan hampir memicu kebakaran. Kondisi inilah yang membuat polisi rutin melakukan penertiban dan memberikan imbauan kepada orang tua.
Dari perspektif antropologi, tradisi meriam ini dipandang sebagai bagian dari euforia Desember yang dianggap sebagai “satu paket perayaan”. Dosen Antropologi Universitas Cenderawasih, Dr Hanro Yonathan Lekitoo, melihatnya sebagai evolusi budaya yang mencerminkan kreativitas anak-anak dan remaja Papua. Menurutnya, bunyi dentuman adalah simbol sukacita, namun tradisi ini harus dikendalikan agar tidak menimbulkan risiko keselamatan.
Di sisi lain, tokoh agama seperti Pendeta Ari Herbert Sipahelut juga menyoroti pergeseran makna tradisi ini. Jika dulu permainan meriam dilakukan di tempat tertentu dan terkontrol, kini meriam portable menjangkau ruang-ruang publik sehingga rawan mengganggu ketertiban umum. Ia menekankan pentingnya edukasi tentang makna Natal yang sesungguhnya, terutama bagi anak-anak yang menyambut perayaan dengan cara yang keliru.
Edukasi dari pihak keluarga, sekolah, dan gereja disebut perlu diperkuat agar permainan meriam tidak lagi menjadi sumber keresahan. Penyediaan ruang khusus untuk menyalurkan kreativitas anak-anak menjadi salah satu solusi agar tradisi tetap hidup tanpa membahayakan masyarakat. Tradisi boleh bertahan, namun keselamatan harus lebih diutamakan.
Pada akhirnya, tradisi “perang meriam” yang mewarnai langit Jayapura setiap Desember bukan sekadar permainan, melainkan cerminan perjalanan budaya, kreativitas, kenangan masa kecil, dan dinamika sosial masyarakat Papua. Dentuman yang dulu menghidupkan sukacita kini dihadapkan pada tantangan baru: bagaimana menjaganya tetap ada tanpa mengorbankan keamanan dan ketertiban di tanah yang penuh kegembiraan menjelang Natal ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: