Patung Karwar khas Biak yang diukir dari kayu (Ist)
PAPUA - Pulau Biak dikenal sebagai salah satu destinasi di Papua yang menyimpan pesona alam eksotis sekaligus kekayaan budaya yang kuat. Tak hanya menawarkan panorama laut dan jejak sejarah panjang, Biak juga memiliki ragam oleh-oleh khas yang unik dan menarik untuk dibawa pulang.
Secara historis, Biak pernah berada dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore. Masyarakat suku Biak pada masa lampau pun dikenal sebagai penjelajah laut yang tangguh, dengan pelayaran hingga ke Jawa, Sulawesi, Maluku, bahkan Semenanjung Malaka. Jejak sejarah tersebut turut membentuk identitas budaya yang masih terasa hingga kini.
Selain panorama alam yang masih alami, wisatawan yang berkunjung ke Biak juga dimanjakan dengan ragam kuliner dan produk kerajinan khas. Setelah menikmati wisata alam dan budaya, membawa pulang cendera mata menjadi cara untuk menyimpan kenangan tentang pulau ini.
Salah satu oleh-oleh yang banyak diminati adalah batik dan T-shirt khas Papua. Motif batik yang dijual di Biak menampilkan corak terumbu karang, bunga sulur, cicak, hingga burung cenderawasih dengan dominasi warna cerah seperti merah, kuning, biru, dan hijau.
Baca juga: Ini SMP Terbaik di Biak Numfor 2026
Selain batik, T-shirt bermotif Papua juga menjadi pilihan favorit. Desainnya menampilkan panorama alam, flora fauna, hingga ilustrasi patung Karwar. Dengan harga yang relatif terjangkau, kaus ini cocok untuk segala usia dan menjadi media promosi budaya Papua secara tidak langsung.
Oleh-oleh berikutnya yang cukup unik adalah sarang semut, tanaman herbal khas Papua yang biasa diolah menjadi minuman. Meski namanya terdengar ekstrem, sarang semut dikenal luas sebagai ramuan tradisional yang dipercaya memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan.
Dalam bentuk utuh maupun bubuk, sarang semut biasanya diseduh dan diminum secara rutin. Produk ini banyak diburu wisatawan yang ingin membawa pulang alternatif suplemen herbal khas Papua.
Kerajinan kulit kayu juga menjadi ciri khas Biak. Bahan yang digunakan berasal dari kayu Khombouw yang tumbuh di hutan Papua. Lukisan pada media kulit kayu menampilkan motif ikan, tifa, burung, hingga buaya yang terinspirasi dari tradisi dan kearifan lokal.
Seiring perkembangan zaman, kerajinan kulit kayu tidak hanya berbentuk lukisan, tetapi juga tas, topi, dan berbagai cendera mata lainnya. Nilai seni dan cerita di balik setiap motif menjadikannya lebih dari sekadar barang hias.
Baca juga: Antisipasi Calo, Pelni Jayapura Imbau Pemudik Gunakan Sistem Tiket Online
Patung Karwar menjadi salah satu simbol budaya paling kuat dari Biak. Dalam bahasa Biak, Karwar melambangkan roh atau arwah leluhur. Dahulu, patung ini digunakan sebagai bentuk penghormatan terhadap keluarga yang telah meninggal.
Kini, patung Karwar tidak lagi difungsikan sebagai media spiritual, melainkan sebagai aset budaya dan cendera mata. Miniatur patung dengan detail ikat kepala dan koteka banyak dijual sebagai pajangan, gantungan kunci, maupun suvenir khas Papua.
Selain itu, noken juga menjadi oleh-oleh yang sarat makna. Tas tradisional dari serat kulit kayu ini biasa dibawa di atas kepala dan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dari Papua. Noken melambangkan kehidupan, kesuburan, dan kedewasaan perempuan Papua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: