Selasa, 10 FEBRUARI 2026 • 20:40 WIB

Situs Megalitik Papua Jejak Peradaban Kuno Dan Warisan Sakral Di Tepi Danau Sentan

Author

Situs Megalitik Tutari di Bukit Tutari, Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua (Ist)

PAPUA – Situs Megalitik Tutari terletak di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, tepat di Bukit Tutari yang membentang di tepian barat Danau Sentani, dan dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Kawasan ini berupa perbukitan yang ditumbuhi ilalang, semak belukar, serta pohon kayu putih, dengan hamparan bongkahan batu besar yang sebagian di antaranya menjadi media lukisan megalitik peninggalan masa prasejarah.

Dari sisi timur dan selatan bukit, terbentang pemandangan Danau Sentani yang memesona, lengkap dengan rumah-rumah warga Kampung Doyo Lama yang tertata mengikuti lekuk tepian danau hingga tanjung Bukit Teletabis.

Dalam legenda masyarakat setempat, Tutari merupakan nama salah satu suku yang dahulu mendiami kawasan Danau Sentani bagian barat, namun kemudian punah akibat perang suku pada masa lampau.

Baca juga: TANKI MINYAK Peninggalan Perang Dunia II di Tanah Papua

Kepercayaan lokal menyebutkan sekitar 600 tahun silam, Suku Tutari pernah tinggal di perkampungan bernama Tutari Yoku Tamaiyoku, dan Bukit Tutari hingga kini dianggap sebagai tempat keramat yang dihuni makhluk gaib.

Masyarakat Doyo Lama meyakini lukisan-lukisan pada batu telah ada jauh sebelum nenek moyang mereka bermukim di kawasan ini, menjadikannya sebagai peninggalan prasejarah yang penuh misteri dan nilai sakral.

Penelitian Balai Arkeologi Papua mengungkap bahwa masyarakat yang kini tinggal di sekitar situs bukanlah keturunan langsung Suku Tutari, melainkan berasal dari Pulau Yonoqom yang kemudian bermigrasi dan menetap di tepian Danau Sentani.

Motif-motif lukisan pada batu menggambarkan flora, fauna, manusia, benda budaya, serta pola geometris, yang merepresentasikan kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat prasejarah.

Di puncak Bukit Tutari yang menjulang sekitar 300 meter, berdiri sekitar 110 menhir yang diyakini sebagai simbol tokoh adat, tempat musyawarah, atau kompleks pemakaman kuno yang sakral.

Baca juga: Pembangunan Kelenteng Pertama di Tanah Papua Resmi Dimulai di Jayapura

Keberadaan menhir ini menambah aura mistis kawasan tersebut, di mana masyarakat setempat percaya batu-batu itu tidak dapat dipindahkan karena merupakan perwujudan leluhur yang berubah menjadi batu.

Nilai estetika dan spiritual lukisan megalitik Tutari menjadikan situs ini sebagai salah satu peninggalan budaya paling penting di Papua, sekaligus bukti kuat eksistensi peradaban kuno di kawasan Danau Sentani.

Namun, kelestarian situs ini menghadapi ancaman serius akibat pertumbuhan lumut, jamur, alga, kebakaran lahan, serta aktivitas pembangunan yang berpotensi merusak struktur alami bukit.

Baca juga: Pembangunan Klenteng Pertama di Jayapura Jadi Simbol Kerukunan dan Keberagaman

Upaya pelestarian terus didorong agar Situs Megalitik Tutari tidak hanya terjaga sebagai warisan sejarah, tetapi juga menjadi pusat edukasi budaya, destinasi wisata sejarah, serta sumber kesejahteraan masyarakat lokal.

Dengan perawatan dan perlindungan berkelanjutan, Bukit Tutari diharapkan tetap menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Papua, sekaligus ruang refleksi akan kearifan leluhur yang membentuk identitas Tanah Papua.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU