Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 10 FEBRUARI 2026 • 20:32 WIB

TANKI MINYAK Peninggalan Perang Dunia II di Tanah Papua

TANKI MINYAK Peninggalan Perang Dunia II di Tanah PapuaSebuah tanki minyak peninggalan pasukan Sekutu yang masih berdiri kokoh di kawasan Teluk Tanah Merah, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua (Ist)

PAPUA – Di tengah rimbunnya hutan dan sunyinya jalur menuju pelabuhan peti kemas Depapre, Kabupaten Jayapura, masih berdiri sejumlah tanki minyak peninggalan pasukan Sekutu yang menjadi saksi bisu peristiwa besar Perang Dunia II di Tanah Papua.

Bangunan baja raksasa itu pernah menjadi bagian vital dari sistem logistik pasukan Sekutu-Amerika Serikat pada April 1944, ketika wilayah Teluk Tanah Merah dijadikan basis pendaratan dan persiapan operasi militer di Pasifik.

Pada masanya, kawasan ini dikenal dengan sebutan “kota satu malam”, merujuk pada kecepatan pembangunan puluhan fasilitas militer yang membuat warga setempat terperangah menyaksikan perubahan drastis dalam waktu singkat.

Jejak kejayaan masa lalu itu kini tampak samar, tertutup lumut, semak belukar, serta karat yang perlahan menggerogoti struktur tanki, sebagian bahkan telah hilang akibat pembongkaran dan longsor alam.

Baca juga: Pembangunan Kelenteng Pertama di Tanah Papua Resmi Dimulai di Jayapura

Dari catatan sejarah, setidaknya 23 hingga 29 unit tanki minyak dibangun pasukan Sekutu di Teluk Tanah Merah, namun jumlahnya terus menyusut seiring berjalannya waktu dan minimnya upaya perlindungan.

Tanki-tanki tersebut dulunya berfungsi sebagai pusat penyimpanan bahan bakar untuk mendukung pergerakan Armada VII Sekutu di bawah komando Jenderal Douglas MacArthur dalam merebut wilayah strategis di Pasifik.

Wilayah Depapre menjadi salah satu titik penting karena posisinya yang strategis sebagai jalur masuk menuju Hollandia, kini Jayapura, yang sebelumnya dikuasai pasukan Jepang sejak 1942.

Pendaratan besar-besaran Sekutu pada 22 April 1944 mengubah wajah kawasan ini secara drastis, memunculkan infrastruktur militer yang dibangun dengan kecepatan luar biasa demi mendukung operasi lanjutan ke Biak, Morotai, hingga Filipina.

Di balik pembangunan masif itu, masyarakat adat setempat harus merelakan tanah ulayat mereka dipergunakan tanpa kompensasi, karena situasi perang yang memaksa segala sumber daya dikerahkan demi kepentingan militer.

Baca juga: Pembangunan Klenteng Pertama di Jayapura Jadi Simbol Kerukunan dan Keberagaman

Puluhan tahun berlalu, peninggalan sejarah tersebut kini berada di persimpangan antara pelestarian dan kepunahan, terancam hilang oleh aktivitas pencarian besi tua serta kerusakan alam.

Padahal, keberadaan tanki minyak dan sisa infrastruktur perang di Depapre menyimpan nilai historis yang tinggi, sekaligus potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah Perang Pasifik di Tanah Papua.

Upaya dokumentasi, perlindungan, dan pengelolaan yang serius diperlukan agar generasi muda dapat mengenal secara langsung kisah besar yang pernah membentuk wilayah ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

TANKI MINYAK Peninggalan Perang Dunia II di Tanah Papua

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!