Jumat, 15 MEI 2026 • 12:00 WIB

Frans Kaisiepo Pahlawan Papua Yang Namanya Diabadikan Di Uang Kertas Pecahan Rp10.000

Author

Frans Kaisiepo (paling kiri) bersama dengan sejumlah perwira tinggi militer dalam upacara HUT ABRI tahun 1970 (wikipedia)

PAPUA - Frans Kaisiepo dikenang sebagai salah satu tokoh penting asal Papua yang memiliki peran besar dalam mempertahankan wilayah Papua tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Lahir pada tahun 1921, Frans Kaisiepo dikenal sebagai pejuang diplomasi dan politik yang secara konsisten menolak upaya Belanda untuk memisahkan Papua dari Indonesia.

Namanya mulai dikenal luas ketika menghadiri Konferensi Malino di Sulawesi Selatan pada Juli 1946 sebagai satu-satunya perwakilan asli Papua dalam forum tersebut.

Dalam konferensi itu, Frans Kaisiepo mengusulkan penggunaan nama “Irian” untuk menggantikan nama Papua yang digunakan pada masa kolonial.

Baca juga: Keunikan Aksesoris Pakaian Adat Papua Dari Mahkota Bulu Hingga Noken Yang Sarat Makna Budaya

Nama Irian berasal dari bahasa Biak yang memiliki arti “cahaya yang mengusir kegelapan” dan kemudian juga dimaknai sebagai singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti-Nederland.

Pada saat yang sama, ia juga dengan tegas menentang rencana Belanda yang ingin membentuk Negara Indonesia Timur dan memisahkan Papua dari wilayah Republik Indonesia.

Frans Kaisiepo percaya bahwa Papua merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia sehingga harus tetap berada dalam satu kesatuan negara.

Selain perjuangan diplomasi, ia juga aktif menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia dan mengibarkan bendera Merah Putih di Papua setelah Indonesia merdeka.

Baca juga: Pesona Wisata Timika : Dari Kota Modern Kuala Kencana Hingga Keindahan Alam Taman Nasional Lorentz Yang Mendunia

Untuk memperkuat gerakan politik pro-Indonesia, Frans Kaisiepo mendirikan Partai Indonesia Merdeka atau PIM di Biak pada tahun 1946.

Beberapa tahun kemudian, ia kembali membentuk partai bernama Irian Sebagian Indonesia atau ISI yang bertujuan memperjuangkan penyatuan Papua dengan Indonesia.

Aktivitas politik dan perjuangannya membuat Frans Kaisiepo harus dipenjara oleh Belanda selama beberapa tahun, tepatnya dari 1954 hingga 1961.

Baca juga: Daftar Maskapai Penerbangan Ke Papua Yang Menghubungkan Wilayah Timur Indonesia Dengan Kota-Kota Besar

Meski sempat mendekam di penjara, semangat perjuangannya tidak pernah surut hingga akhirnya ia terus terlibat dalam proses integrasi Papua ke Indonesia melalui Penentuan Pendapat Rakyat atau PEPERA tahun 1969.

Atas jasa dan pengabdiannya bagi bangsa, Frans Kaisiepo dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1993 dan namanya kini diabadikan sebagai nama bandara di Biak serta pada uang kertas pecahan Rp10.000.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU