Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 06 MEI 2026 • 18:25 WIB

Gua Binsari Jadi Ikon Wisata Sejarah Perang Dunia II di Biak

Gua Binsari Jadi Ikon Wisata Sejarah Perang Dunia II di BiakGua Binsari atau Gua Jepang di Kabupaten Biak Numfor, Papua (Ist)

PAPUA - Di balik rimbunnya hutan dan sejuknya udara Pulau Biak, terdapat sebuah situs bersejarah yang menyimpan kisah panjang masa lalu, yakni Gua Binsari. Tempat ini tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai saksi bisu peristiwa Perang Dunia II di wilayah Papua.

Gua Binsari yang berada di Kabupaten Biak Numfor kerap disebut masyarakat sebagai Gua Jepang. Sebutan ini muncul karena gua tersebut pernah digunakan oleh tentara Jepang sebagai lokasi strategis selama masa perang.

Keberadaan gua ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, terutama mereka yang memiliki ketertarikan pada sejarah dan peninggalan perang. Selain menawarkan pengalaman wisata, tempat ini juga menghadirkan pembelajaran sejarah secara langsung.

Pada masa perang, gua yang berada sekitar 15 hingga 20 meter di bawah permukaan tanah ini digunakan untuk menyimpan berbagai kebutuhan militer. Mulai dari makanan, obat-obatan, hingga bahan bakar disimpan di lokasi tersebut.

Baca juga:  Ikon Wisata Puncak Jayapura City Tawarkan Panorama Kota dari Ketinggian

Awalnya, masyarakat lokal memanfaatkan gua ini sebagai tempat tinggal dan berkebun. Namun, seiring masuknya tentara Jepang, fungsi gua berubah menjadi lokasi penting dalam strategi perang.

Dalam bahasa Biak, gua ini dikenal dengan nama Abyab Binsari yang berarti “seorang nenek”. Nama tersebut berasal dari cerita masyarakat yang kerap mendengar suara tangisan dari dalam gua.

Sejarah mencatat, kawasan ini menjadi bagian dari pertempuran antara pasukan Jepang dan Sekutu. Pertempuran tersebut bahkan berujung pada pemboman di sekitar wilayah gua.

Menurut keterangan pengelola, ribuan tentara Jepang pernah ditempatkan di wilayah Biak dan Supiori. Sekitar 3.000 di antaranya berada di sekitar Gua Binsari.

Berbagai peninggalan perang masih dapat ditemukan di lokasi ini. Mulai dari tulang belulang tentara, granat, hingga rudal berkarat kini dikumpulkan dan dipajang dalam museum kecil di area gua.

Sejak dibuka untuk umum pada tahun 1990-an, pengelolaan Gua Binsari masih dilakukan secara mandiri oleh masyarakat setempat. Keluarga pengelola telah merawat situs ini secara turun-temurun.

Selain nilai sejarah, gua ini juga dikenal memiliki nuansa mistis. Beberapa pengunjung mengaku pernah mendengar suara aneh hingga melihat penampakan yang diyakini sebagai arwah tentara.

Cerita-cerita tersebut justru menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman berbeda saat berkunjung ke lokasi ini.

Meski demikian, pengelola berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah untuk pengembangan fasilitas. Kebutuhan seperti pemagaran, perbaikan infrastruktur, dan pembangunan museum yang lebih layak menjadi harapan utama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Gua Binsari Jadi Ikon Wisata Sejarah Perang Dunia II di Biak

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!