Jumat, 29 MEI 2026 • 19:26 WIB

Bahasa Asli Jayapura Jadi Identitas Budaya yang Masih Hidup di Tengah Modernisasi Kota

Author

Aktivitas masyarakat adat di salah satu kampung tradisional di Kota Jayapura yang masih menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. (Ist)

PAPUA - Kota Jayapura dikenal sebagai salah satu wilayah paling majemuk di Papua. Selain menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan, kota ini juga menjadi rumah bagi berbagai komunitas adat yang masih mempertahankan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya mereka.

Di tengah perkembangan kota dan arus modernisasi, bahasa-bahasa asli Jayapura tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat adat. Bahasa daerah tidak hanya digunakan dalam komunikasi sehari-hari, tetapi juga hadir dalam upacara adat, lagu tradisional, cerita rakyat, hingga simbol kekerabatan antar marga.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura mencatat terdapat sejumlah bahasa asli yang berkembang di wilayah adat sekitar Jayapura. Beberapa di antaranya berasal dari Kampung Skouw, Nafri, Kayu Pulo, Kayu Batu, hingga wilayah Sentani yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan budaya Papua.

Setiap bahasa memiliki dialek dan karakter tersendiri. Bahasa Skouw misalnya dikenal berkembang di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini dan memiliki pengaruh budaya pesisir yang kuat. Bahasa ini digunakan masyarakat adat dalam berbagai aktivitas sosial dan adat di kawasan Skouw.

Sementara itu, Bahasa Nafri menjadi bagian penting dari identitas masyarakat adat di Distrik Abepura dan sekitarnya. Bahasa tersebut diwariskan turun-temurun dan masih digunakan dalam percakapan keluarga maupun kegiatan adat masyarakat setempat.

Baca juga: Begini Sejarah Hari Lahir Pancasila dan Makna 1 Juni bagi Indonesia

Di kawasan Teluk Youtefa, masyarakat Kayu Pulo dan Kayu Batu juga memiliki bahasa daerah yang unik. Kampung-kampung tua ini dikenal sebagai salah satu pusat budaya pesisir Jayapura yang menyimpan banyak cerita sejarah tentang kehidupan masyarakat adat Papua di masa lampau.

Bahasa Kayu Pulo dan Kayu Batu memiliki hubungan erat dengan tradisi maritim masyarakat setempat. Banyak istilah lokal yang berkaitan dengan laut, perahu tradisional, hingga aktivitas menangkap ikan yang menjadi bagian kehidupan warga sejak dahulu.

Selain wilayah pesisir, Bahasa Sentani menjadi salah satu bahasa daerah terbesar dan paling dikenal di Papua. Bahasa ini digunakan masyarakat di sekitar Danau Sentani yang tersebar di sejumlah kampung adat di Kabupaten Jayapura.

Bahasa Sentani tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari tradisi budaya yang kaya. Banyak lagu daerah, tarian adat, hingga ukiran khas Sentani menggunakan istilah dan filosofi yang berasal dari bahasa lokal tersebut.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku S.Pd., M.Pd., pernah menyampaikan bahwa bahasa daerah memiliki nilai penting dalam menjaga jati diri masyarakat asli Papua. Menurutnya, bahasa lokal menjadi penghubung generasi muda dengan sejarah leluhur mereka.

“Bahasa daerah adalah identitas budaya masyarakat Papua. Kalau anak-anak muda memahami bahasa daerahnya, maka mereka juga memahami sejarah dan akar budayanya,” ujarnya dalam keterangannya kepada wartawan.

Baca juga: Sidang BPUPKI Jadi Pondasi Kemerdekaan, Dari Perdebatan Dasar Negara hingga Lahirnya Pancasila

Menurut Grace, perkembangan teknologi dan penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan perkotaan membuat generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa ibu di lingkungan keluarga. Namun di sisi lain, hal itu juga menjadi tantangan agar bahasa daerah dapat terus dikenalkan dengan cara yang lebih modern dan menarik.

Sebagai bentuk pelestarian budaya, Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mendorong pembentukan sekolah kampung. Program tersebut bertujuan memperkenalkan kembali bahasa daerah kepada generasi muda melalui pendidikan berbasis budaya lokal.

Sekolah kampung nantinya tidak hanya mengajarkan bahasa daerah, tetapi juga memperkenalkan tarian adat, cerita rakyat, musik tradisional, hingga nilai-nilai budaya masyarakat Papua. Program ini mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2022 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah Kota Jayapura.

Pemerintah kampung juga didorong untuk ikut berperan menyediakan tempat belajar serta mendukung kegiatan pelestarian budaya di lingkungan masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting agar bahasa daerah tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari warga.

Budayawan Papua menilai bahasa daerah merupakan arsip hidup yang menyimpan pengetahuan lokal masyarakat adat. Banyak istilah dalam bahasa Papua yang berkaitan langsung dengan alam, hutan, laut, dan kehidupan sosial yang tidak dapat diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa lain.

Baca juga: Konflik Nduga Memanas, TPNPB Klaim Tiga Anggota Tewas dalam Serangan Drone

Selain itu, bahasa daerah juga memperkuat hubungan sosial antar warga adat. Dalam budaya Papua, penggunaan bahasa ibu sering dianggap sebagai simbol penghormatan terhadap keluarga, leluhur, dan identitas suku.

Di sejumlah kampung adat Jayapura, anak-anak masih diajarkan sapaan, doa adat, dan percakapan sederhana menggunakan bahasa daerah sejak usia dini. Tradisi ini menjadi cara masyarakat menjaga kesinambungan budaya di tengah perubahan zaman.

Perkembangan Kota Jayapura sebagai kota modern tidak serta-merta menghilangkan keberadaan bahasa lokal. Justru di tengah kemajuan tersebut, bahasa daerah menjadi simbol penting bahwa masyarakat Papua tetap menjaga akar budaya mereka.

Dengan kekayaan bahasa yang dimiliki, Jayapura tidak hanya dikenal sebagai gerbang Papua, tetapi juga sebagai ruang hidup berbagai warisan budaya yang masih bertahan hingga hari ini. Bahasa daerah menjadi bukti bahwa identitas budaya Papua tetap hidup, tumbuh, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU