Minggu, 23 NOVEMBER 2025 • 03:05 WIB

Kematian Irene Sokoy dan Bayinya Guncang Jayapura: Tragedi Penolakan Pasien yang Ungkap Krisis Sistem Kesehatan Papua

Author

Tampak keluarga dan warga memberikan dukungan di rumah duka Irene Sokoy setelah tragedi yang mengguncang masyarakat Jayapura. (Ist)

Papua - Tragedi kematian Irene Sokoy beserta bayi dalam kandungannya menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Jayapura. Kasus ini menjadi salah satu insiden paling memilukan pada tahun 2025, sekaligus kembali menyoroti krisis pelayanan kesehatan di Papua yang selama ini sering dikeluhkan masyarakat.

Menurut keterangan keluarga, Irene mengalami kondisi darurat saat dalam perjalanan menuju fasilitas kesehatan. Namun situasi genting tersebut tidak mendapat respons cepat sebagaimana seharusnya. Empat rumah sakit di Jayapura disebut menolak atau tidak dapat menanganinya dengan alasan berbeda-beda.

Penolakan itu membuat proses pencarian pertolongan berlangsung melelahkan sekaligus menegangkan. Setiap fasilitas kesehatan yang mereka datangi tidak kunjung memberikan penanganan, hingga kondisi Irene terus menurun di tengah waktu yang semakin kritis.

Baca juga: Tragedi di Jalan Gunung Yahukimo: Pekerja Gereja Jadi Korban Kekerasan, Aparat Perkuat Operasi Keamanan

Ivan, adik kandung Irene, menjadi saksi langsung deteriorasi kondisi sang kakak. Ia menuturkan bahwa Irene sempat mengeluhkan sesak napas dan rasa panas di dada tak lama sebelum kehilangan kesadaran. “Itu kakak sudah memang rasa gelisah. Panas itu di dada saja… sesak,” ujarnya dengan suara penuh duka.

Irene kemudian bersandar pada adiknya dalam perjalanan, berusaha tetap bertahan menghadapi rasa sesak yang semakin berat. Namun tidak lama, tubuhnya melemah dan terkulai. “Kakak jatuh di dada saya,” kata Ivan menggambarkan detik-detik terakhir sebelum sang kakak mengembuskan napas terakhir.

Lima hari setelah peristiwa itu, Gubernur Papua, Mathius Derek Fakhiri, mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung. Kehadirannya bukan sekadar bentuk simpati, tetapi juga pengakuan bahwa tragedi ini mencerminkan persoalan besar dalam tata kelola kesehatan di Papua.

Dalam penyampaiannya, Gubernur Fakhiri menegaskan bahwa kematian Irene dan bayinya menjadi tamparan keras bagi pemerintah. Ia menyebut tragedi ini sebagai bukti nyata buruknya pelayanan kesehatan di Papua yang harus segera dibenahi secara menyeluruh.

Kematian Irene memicu perbincangan luas di masyarakat, terutama mengenai bagaimana sistem rujukan dan pelayanan gawat darurat seharusnya bekerja. Publik menilai bahwa tragedi ini bukan kejadian tunggal, melainkan puncak dari rangkaian masalah struktural yang lama tidak terselesaikan.

Baca juga: Upaya Nyata Hadirkan Listrik 24 Jam di Beoga: Jemi Patabang Bersama PLN Lakukan Survei Lapangan

Tokoh masyarakat, aktivis kemanusiaan, hingga organisasi lokal mendesak pemerintah melakukan reformasi besar-besaran untuk memastikan bahwa tidak ada lagi warga Papua yang kehilangan nyawa karena ditolak fasilitas kesehatan. Penguatan kapasitas rumah sakit serta prosedur rujukan dianggap sangat mendesak.

Tragedi Irene Sokoy kini menjadi cermin menyakitkan dari rapuhnya sistem kesehatan daerah. Masyarakat berharap kasus ini menjadi titik balik—sebuah momentum yang memaksa perubahan nyata, agar pelayanan kesehatan yang merupakan hak dasar setiap warga benar-benar terpenuhi dan tidak lagi mengulang duka yang sama.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU