PAPUA — Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, secara resmi melepas pengiriman 10 kontainer kayu olahan dari Pelabuhan Jayapura menuju Shanghai, China, Selasa (25/11/2025). Pengiriman ini menjadi momentum penting bagi sektor industri hasil hutan Papua yang memasuki babak baru dalam ekspor langsung tanpa perantara daerah lain.
Pelepasan tersebut merupakan tahap kelima sepanjang tahun 2025, sehingga total ekspor kayu olahan dari Papua telah mencapai 43 kontainer dengan volume mencapai 799,4190 meter kubik. Capaian ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan daerah mengelola dan memasarkan hasil kayu secara profesional.
Gubernur Fakhiri menegaskan bahwa ekspor kayu olahan merupakan langkah strategis yang menggambarkan transformasi ekonomi Papua. Ia menyatakan bahwa Papua kini bergerak dari sekadar pengekspor bahan mentah menuju penghasil produk bernilai tambah yang diolah melalui teknologi dan standar industri yang lebih modern.
Baca juga: Pemkab Jayapura Perkuat Koperasi Kampung: 284 Pengurus Ikuti Pelatihan Koperasi Merah Putih
Menurut Fakhiri, kebijakan ini sejalan dengan visi besar Pemerintah Provinsi Papua, yakni “Transformasi Papua Baru yang Maju dan Harmonis,” terutama pada misi utama Papua Produktif. Penguatan industri pengolahan kayu diyakini mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperluas peluang usaha secara berkelanjutan.
Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap para pelaku industri kayu yang telah berkomitmen pada prinsip legalitas, keberlanjutan, serta kemitraan dengan masyarakat adat. Ia menekankan bahwa pembangunan di Papua harus selaras dengan lingkungan dan menghormati hak-hak masyarakat adat yang selama ini menjadi penjaga hutan.
Direktur Utama PT Semarak Dharma Timber, Fery Tamstil, menjelaskan bahwa ekspor kayu olahan dari Jayapura kini dapat dilakukan tanpa transit di Surabaya. Seluruh dokumen ekspor telah diproses sepenuhnya di Jayapura, membuatnya tercatat sebagai ekspor resmi dari Papua. Dalam dua bulan terakhir, perusahaan telah mengirim empat kapal ekspor.
Fery mengungkapkan bahwa keberhasilan ekspor langsung ini tercapai setelah biaya pengiriman dari Jayapura berhasil ditekan hingga setara dengan biaya di Surabaya. Biaya tinggi sebelumnya menjadi hambatan utama bagi perusahaan, terutama pada komponen layanan survei Sucofindo dan karantina yang kini lebih efisien.
Baca juga: Front Hak Ulayat Mimika Kepung DPRK: Desakan Penyelesaian Batas Wilayah Memuncak
Ia menyampaikan apresiasi kepada jajaran pemerintah dan lembaga terkait seperti Dinas Perdagangan Papua, Dinas Kehutanan, Bea Cukai, Balai Karantina, dan Sucofindo atas dukungan yang membuka jalur ekspor kompetitif dari Papua. Dengan kondisi tersebut, ia menilai tidak ada lagi alasan bagi pelaku usaha untuk mengalihkan ekspor melalui daerah lain.
Menurut Fery, efisiensi biaya dan kemudahan prosedur dapat mendorong lebih banyak perusahaan lokal untuk memanfaatkan peluang ekspor dari Jayapura. Ia berharap tren positif ini mampu memperluas pasar dan meningkatkan daya saing industri kayu Papua di tingkat internasional.
Sementara itu, Pelaksana tugas Kepala Dinas Perindagkop Papua, Anton Yoas Imbenai, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor tersebut merupakan wujud dari misi Papua Cerdas, yang mendorong adopsi teknologi dan tata kelola modern dalam industri daerah. Ia berharap kerja sama ekspor ini memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Papua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: