PAPUA - Kerusakan parah ruas jalan nasional Nabire–Ilaga kembali menjadi sorotan, terutama di titik Kilometer 139 hingga 141 yang dinilai membutuhkan penanganan serius dari pemerintah pusat.
Masalah infrastruktur di wilayah Pegunungan Tengah Papua ini bukan persoalan baru. Namun, kondisi yang terus berulang meski telah dilakukan perbaikan, kini memicu perhatian publik secara luas.
Ruas jalan yang menghubungkan Kabupaten Nabire menuju Ilaga tersebut diketahui mengalami kerusakan berat, mulai dari amblas hingga berlumpur, sehingga menyulitkan mobilitas masyarakat.
Sorotan tajam pun diarahkan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap konstruksi jalan di wilayah tersebut.
Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, mengungkapkan keprihatinannya setelah melihat langsung kondisi kerusakan yang bahkan viral di media sosial.
Baca juga: Sorotan Proyek RTH Mimika, Aliansi OAP Tantang Transparansi Pemkab
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada kualitas aspal, melainkan pada sistem drainase yang tidak memadai.
Ia menjelaskan bahwa air yang tidak memiliki saluran pembuangan akan meresap dan merusak struktur jalan dari bagian bawah.
Kondisi ini diperparah dengan letak geografis titik KM 139–141 yang berada di area rendah, sehingga diduga menjadi tempat berkumpulnya aliran air, termasuk kemungkinan adanya resapan air bawah tanah.
Akibatnya, meskipun jalan telah berulang kali diaspal ulang, permukaan tetap mengalami penurunan karena tanah di bawahnya tidak stabil.
John menegaskan pentingnya prinsip dasar dalam pembangunan jalan di wilayah ekstrem, yakni memberikan jalur yang cukup bagi air agar tidak merusak badan jalan.
Selain itu, ia menyoroti belum adanya pembangunan talud atau dinding penahan tanah di sepanjang ruas jalan tersebut.
Padahal, kondisi jalan yang berada di lereng gunung dan berdekatan dengan jurang sangat rentan terhadap erosi.
Tanpa perlindungan di sisi kiri dan kanan, tanah akan terus terkikis dan pada akhirnya merusak struktur jalan secara menyeluruh.
Ia juga menekankan pentingnya pembangunan box culvert atau gorong-gorong beton sebagai solusi teknis yang harus segera diterapkan.
Menurutnya, box culvert memiliki fungsi vital untuk mengalirkan air hujan maupun air permukaan ke area yang lebih rendah secara teratur.
Baca juga: Mudik Gratis Diluncurkan, Warga Boven Digoel Dapat Fasilitas Transportasi
Dengan adanya sistem drainase yang baik, genangan air dapat dihindari dan kekuatan badan jalan akan lebih terjaga.
Ketiadaan infrastruktur pendukung ini dinilai sebagai pemborosan anggaran, karena perbaikan jalan yang dilakukan selama ini hanya bersifat sementara.
Masyarakat pun terus dirugikan, terutama karena terganggunya distribusi logistik dan meningkatnya risiko kecelakaan di jalur tersebut.
Melalui pernyataannya, John NR Gobai mendesak Kementerian PUPR untuk segera memprioritaskan pembangunan permanen di titik-titik rawan tersebut.
Ia berharap pemerintah pusat tidak lagi melakukan perbaikan tambal sulam, melainkan membangun infrastruktur yang sesuai dengan kondisi geografis Papua.
Perhatian serius dari pemerintah dinilai sangat penting untuk menjamin keselamatan pengguna jalan serta mendukung kelancaran aktivitas ekonomi di Papua Tengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Papua Link