Rabu, 29 APRIL 2026 • 20:32 WIB

Longsor Lumpuhkan Waa-Banti, Warga Terisolasi Dan Soroti Dampak Lingkungan Serta Infrastruktur

Author

Akses jalan terputus akibat longsor di kawasan Waa-Banti (29/04/2026) (papuanewsonline.com)

PAPUA - Bencana longsor yang melanda Kampung Waa-Banti, Kabupaten Mimika, mengakibatkan lumpuhnya seluruh aktivitas masyarakat setempat.

Akses jalan utama yang selama ini menjadi jalur vital kini terputus total akibat material longsoran.

Kondisi tersebut membuat warga mengalami kesulitan dalam memperoleh kebutuhan dasar seperti makanan dan minuman.

Situasi ini juga berdampak pada aktivitas pendidikan dan mobilitas masyarakat yang terhenti.

Baca juga: One Day Trip di Jayapura: Jelajahi Mutiara Hitam dari Pagi hingga Malam

Menanggapi kondisi tersebut, Natalis Bugaleng menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi yang terjadi.

Ia sekaligus memberikan apresiasi terhadap langkah cepat yang dilakukan oleh pihak perusahaan dan pemerintah daerah.

Menurutnya, tim dari PT Freeport Indonesia bersama pemerintah telah turun langsung ke lapangan.

Namun demikian, ia menilai penanganan yang dilakukan masih perlu ditingkatkan secara menyeluruh.

Baca juga: Batik Papua Mendunia: Jejak Sejarah dan Ragam Motif yang Sarat Makna

Natalis menegaskan bahwa perbaikan tidak hanya bersifat sementara, tetapi harus mencakup solusi jangka panjang.

Ia menyoroti pentingnya pembenahan jalan, jembatan, serta akses transportasi lainnya yang rusak.

Menurutnya, persoalan utama terletak pada kondisi geografis jalur utama yang sudah tidak layak digunakan.

Lokasi jalan yang berada di lereng curam dan bekas aliran sungai dinilai rawan longsor berulang.

Hal ini membuat pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut perlu dikaji ulang secara serius.

Natalis pun mendorong adanya kajian teknis mendalam sebelum pembangunan kembali dilakukan.

Ia meminta tim ahli untuk menilai kelayakan lokasi pembangunan jalan dan jembatan secara komprehensif.

Di sisi lain, ia juga menyoroti persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat setempat.

Menurutnya, warga hidup di kawasan yang terdampak limbah perusahaan, termasuk di sekitar aliran sungai.

Kondisi tersebut berdampak pada lahan berkebun dan permukiman yang tidak lagi layak.

Baca juga: Target Medali Digenjot, PBSI Papua Barat Mulai Gaspol Siapkan Atlet

Ia menyebut situasi ini menjadi persoalan besar yang harus segera ditangani oleh pihak terkait.

Kualitas hidup masyarakat pun dinilai semakin memprihatinkan akibat kondisi tersebut.

Natalis mempertanyakan sejauh mana komitmen perusahaan dalam memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.

Ia menilai masyarakat Waa-Banti merupakan pihak yang terdampak langsung dari aktivitas industri.

Baca juga: Bantuan Pangan Mulai Disalurkan, 27.209 Keluarga di Mimika Terima Beras dan Minyak

Oleh karena itu, ia berharap adanya peningkatan kesejahteraan yang setara bagi warga setempat.

Menurutnya, kehidupan masyarakat seharusnya dapat setara dengan lingkungan karyawan perusahaan.

Ia juga mengkritik ketimpangan yang dirasakan masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya alam.

Di akhir pernyataannya, Natalis menegaskan bahwa pembangunan harus memperhatikan aspek keselamatan dan keberlanjutan.

Ia menilai kondisi di Waa-Banti menjadi pengingat penting bahwa pembangunan tidak hanya berfokus pada ekonomi.

Lebih dari itu, keadilan sosial serta perlindungan lingkungan harus menjadi prioritas utama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Papuanewsonline.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU