PAPUA – Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita terus menarik perhatian publik, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara. Meski telah tersedia secara gratis di platform YouTube, semangat masyarakat untuk menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi tetap tinggi.
Salah satu kegiatan nobar terbaru berlangsung di London, Inggris. Mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Inggris menggelar pemutaran bersama film tersebut dan melanjutkannya dengan diskusi mengenai isu-isu yang diangkat dalam dokumenter itu.
Film karya Dandhy Laksono bersama antropolog Dr. Cypri Jehan Paju Dale tersebut tayang secara daring melalui kolaborasi sejumlah kanal, di antaranya JubiTV, Watchdoc, dan Greenpeace Indonesia.
Sejak resmi dirilis pada 22 Mei 2026, film berdurasi 95 menit itu menjadi perbincangan luas. Selain mendapat respons positif dari berbagai kalangan, film tersebut juga memunculkan sejumlah kontroversi dan perdebatan publik terkait substansi yang disampaikan.
Meski demikian, perhatian terhadap film itu tidak surut. Penonton dari berbagai negara seperti Malaysia, Myanmar, Australia, Selandia Baru, Jerman, hingga Inggris tercatat ikut menyaksikan dan mendiskusikan film tersebut.
Di London, kegiatan nobar diprakarsai oleh sejumlah mahasiswa Indonesia yang tertarik membahas berbagai persoalan sosial, lingkungan, dan pembangunan yang menjadi tema utama dokumenter tersebut.
Baca juga: Tim Film Pesta Babi Minta Publik Tidak Hakimi Mama Yasinta Moiwend
Sofie Syarief, mantan jurnalis Kompas TV yang saat ini menempuh studi doktoral di Goldsmiths, University of London, mengatakan antusiasme peserta cukup tinggi.
“Yang hari ini Jumat 29 Mei banyak yang nonton sebanyak 150 mahasiswa,” kata Sofie Syarief kepada Jubi melalui pesan WhatsApp, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Sofie, tingginya minat mahasiswa membuat panitia berencana menggelar pemutaran tambahan pada pekan berikutnya agar lebih banyak peserta dapat mengikuti diskusi.
“Jadi kita di sini, nonton bareng pada Jumat 29 Mei, dan pekan depan 6 Juni, dua kali nobar di London,” ucapnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa isu-isu yang diangkat dalam film tidak hanya menarik perhatian masyarakat di Papua atau Indonesia, tetapi juga mendapat perhatian kalangan akademisi dan diaspora Indonesia di luar negeri.
Selain di London, diskusi mengenai film Pesta Babi juga berkembang di sejumlah negara lain. Berbagai komunitas mahasiswa, aktivis lingkungan, hingga jurnalis internasional turut memberikan tanggapan terhadap isi dokumenter tersebut.
Jurnalis senior MalaysiaKini, Rahmat Harun, misalnya, mengaku tersentuh saat menyaksikan film itu dalam pemutaran di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia menyoroti dampak lingkungan dari praktik perkebunan monokultur yang turut menjadi bagian pembahasan dalam film.
“Anda bayangkan hutan tropis di Sarawak Borneo berubah jadi tanaman monoklutur kelapa sawit,” kata Harun.
Pandangan serupa juga disampaikan jurnalis lepas asal Hong Kong, Beimeng Fu, yang pernah menulis laporan tentang perubahan bentang alam akibat ekspansi perkebunan durian di Laos. Dalam diskusi bersama jurnalis Jubi di Bangkok, ia menilai praktik pertanian monokultur dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan.
Menurutnya, meskipun sistem tersebut mampu meningkatkan produksi dalam skala besar dan efisiensi pertanian, dampaknya terhadap kualitas tanah dan keberlanjutan lingkungan perlu menjadi perhatian serius.
Baca juga: Hal-Hal Unik Yang Dianggap Biasa Oleh Masyarakat Papua Namun Terasa Asing Di Daerah Lain
“Warga desa di Laos tanahnya kering kerontang dan butuh mesin bajak untuk mengolah tanah mereka kembali, sayangnya butuh waktu yang lama,” katanya.
Di tengah berbagai perdebatan yang muncul, film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita terus menjadi bahan diskusi lintas negara. Bagi banyak kalangan, dokumenter tersebut tidak hanya menghadirkan cerita tentang Papua, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai hubungan antara pembangunan, lingkungan hidup, masyarakat adat, dan masa depan kawasan yang kaya sumber daya alam.
Dengan terus bertambahnya pemutaran komunitas di berbagai negara, film ini menunjukkan bagaimana karya dokumenter dapat menjadi medium yang mempertemukan beragam perspektif sekaligus mendorong diskusi publik yang lebih luas mengenai isu-isu yang memengaruhi kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jubi