Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 27 DESEMBER 2025 • 14:59 WIB

Ekidna: Mamalia Bertelur dari Papua yang Bertahan Sejak Zaman Dinosaurus dan Jadi Simbol Sakral Warga Adat

Ekidna: Mamalia Bertelur dari Papua yang Bertahan Sejak Zaman Dinosaurus dan Jadi Simbol Sakral Warga AdatEkidna Papua, mamalia bertelur berkulit duri, jadi satwa sakral sekaligus ikon ekowisata di tanah Papua. (wikipedia)PAPUA - Satwa unik asal Papua ini dikenal dengan banyak sebutan: ekidna, nokdiak, atau babi duri. Bentuknya menyerupai landak dengan kulit berduri, perilakunya mirip trenggiling yang menggulung tubuh saat terancam, dan hidungnya menyerupai babi.

Hewan endemik ini menghuni hutan-hutan Papua dan terdiri atas empat jenis yang tersebar di Papua, Papua Nugini, dan Australia. Jenis khas Papua adalah Zaglossus bruijni, satu dari sedikit mamalia bertelur atau kelompok monotremata, seperti platipus, yang telah bertahan sejak zaman prasejarah selama lebih dari 160 juta tahun.

Nilai adat dan konservasi alam

Bagi masyarakat Papua, ekidna memiliki makna spiritual. Di Kampung Ormu Wari, kaki Gunung Cyclops, Kabupaten Jayapura, ekidna diyakini sebagai satwa keramat dan dianggap sebagai nenek moyang.

Sementara di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, hewan ini bukan hanya dihormati, tapi juga dijadikan ikon ekowisata di Kampung Klalik dan Malagufuk.

Baca juga: Mikhayla Shanum Caya Jadi Sensasi Baru SEA Games 2025, Atlet Termuda Indonesia dari Papua Pegunungan

Sebagai satwa nokturnal, ekidna kerap dijumpai di dataran tinggi. Namun perburuan dan rusaknya habitat menjadi ancaman utama keberadaannya. Masyarakat Klalik kemudian memilih jalan berbeda dengan mengembangkan ekowisata berbasis konservasi sejak 2017.

Salah satu penggagasnya, Isai Onesimus Paa, sempat kesulitan meyakinkan para tetua bahwa ekowisata bisa mengubah ekonomi kampung yang terpencil itu. Melalui perjuangan panjang, pada 2023 berdirilah Klalik Echidna Park, yang kini menarik wisatawan dan membantu perekonomian warga.

Penemuan langka ekidna Sir David

Setelah lebih dari 60 tahun tidak tercatat, keberadaan ekidna moncong panjang Sir David akhirnya terekam kamera jebak di kawasan Pegunungan Cyclops. Bukti visual ini menjadi penemuan penting yang mengungkap kelangsungan hidup salah satu spesies paling misterius di dunia.

Bagi masyarakat adat sekitar Cyclops, tempat itu dianggap keramat. Hutan di sana dijaga ketat dengan larangan berburu dan menebang pohon di zona tertentu. Nilai-nilai adat tersebut bukan sekadar warisan budaya, tapi juga benteng ekologis yang menjaga berbagai satwa endemik Papua dari ancaman kepunahan.

Baca juga: Speedboat Terbalik di Kepulauan Yapen, 18 Penumpang Hilang Diterjang Angin Kencang dan Gelombang Tinggi

Rahasia unik ekidna

Keunikan ekidna tak hanya pada bentuk tubuhnya, tetapi juga cara berkembang biaknya. Betina hanya menghasilkan satu butir telur yang disimpan di kantung tubuhnya dan menetas setelah sepuluh hari. Anak ekidna, disebut puggle, menyusu lewat kelenjar khusus tanpa puting di dalam kantong induknya.

Menurut Natural History Museum, induk ekidna menggali lubang untuk menaruh anaknya dan kembali setiap beberapa hari untuk menyusui. Setelah tujuh bulan, anak ekidna mulai hidup mandiri.

Ekidna juga menyimpan keunikan anatomi langka: penis bercabang empat. Menurut penelitian University of Melbourne, hanya dua cabang yang aktif dalam setiap ereksi, sementara dua lainnya berfungsi bergantian. Bentuk ini membuat ekidna dapat mengontrol proses reproduksinya secara unik.

Selain itu, ekidna mampu mendeteksi medan listrik di lingkungan sekitar. Jenis Zaglossus bruijni diketahui memiliki sensitivitas tinggi, terutama di tanah lembab atau air, meski kemampuannya masih kalah dibandingkan platipus.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Ekidna: Mamalia Bertelur dari Papua yang Bertahan Sejak Zaman Dinosaurus dan Jadi Simbol Sakral Warga Adat

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!