PAPUA - Ratusan warga Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah, terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka dan mengungsi ke hutan serta distrik tetangga menyusul meningkatnya ketegangan keamanan akibat dugaan operasi militer yang berlangsung sejak pekan ketiga Januari 2026.
Gelombang pengungsian ini dipicu oleh peristiwa penembakan yang diduga dilakukan aparat TNI dari Pos Timobut, yang membuat masyarakat merasa terancam dan tidak lagi aman untuk bertahan di permukiman mereka.
Warga dari sejumlah kampung di Distrik Kembru mulai bergerak meninggalkan rumah sejak Kamis, 22 Januari 2026, setelah terdengar rentetan suara tembakan dan aktivitas drone yang terus memantau wilayah mereka.
Yosua Walia, warga Kampung Kembru, mengungkapkan bahwa situasi mencekam tersebut membuat masyarakat diliputi ketakutan, terlebih setelah beredar informasi adanya potensi serangan lanjutan yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.
Menurut Yosua, dugaan operasi militer ini berkaitan dengan keberadaan salah satu pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM), Kalenak Murib, yang disebut-sebut memasuki wilayah Distrik Kembru, sehingga aparat meningkatkan intensitas pengamanan.
Rentetan serangan yang berlangsung sejak 22 hingga 31 Januari 2026 membuat warga tidak memiliki pilihan lain selain mengungsi demi melindungi diri, keluarga, serta anak-anak dari kemungkinan dampak konflik bersenjata.
Baca juga: Jejak Sejarah Kepulauan Yapen
Pada Minggu, 1 Februari 2026, warga dari empat kampung, yakni Kembru, Makuma, Nilime, dan Tenoti, memilih mengungsi ke Distrik Yambi, Kabupaten Puncak Jaya, dengan menempuh perjalanan panjang dan melelahkan di tengah kondisi alam yang sulit.
Sementara itu, sebagian warga dari Kampung Abuit dan beberapa kampung lain bergerak menuju Distrik Sinak, mencari tempat yang dianggap lebih aman dari potensi serangan.
Tak sedikit pula warga dari Kampung Belaba, Molu, dan Aguit yang memilih masuk lebih jauh ke kawasan hutan, bersembunyi dan bertahan hidup dengan segala keterbatasan demi menghindari ancaman keselamatan.
Keberadaan warga yang mengungsi ke hutan hingga kini belum diketahui secara pasti, memunculkan kekhawatiran besar terhadap kondisi mereka, terutama anak-anak, lansia, serta perempuan yang rentan terhadap penyakit, kelaparan, dan cuaca ekstrem.
Kondisi pengungsian di distrik tujuan juga dilaporkan serba terbatas, dengan minimnya akses terhadap pangan, layanan kesehatan, serta perlindungan dasar, sehingga meningkatkan risiko krisis kemanusiaan.
Baca juga: Jejak Sejarah Biak Numfor dari abad ke-16
Situasi ini memperlihatkan dampak nyata konflik bersenjata terhadap kehidupan warga sipil, yang kerap menjadi pihak paling terdampak dalam setiap eskalasi keamanan di wilayah pegunungan Papua.
Masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan untuk segera menyalurkan bantuan darurat serta menjamin perlindungan bagi para pengungsi.
Pengungsian massal di Distrik Kembru menjadi pengingat bahwa upaya penegakan keamanan harus tetap mengedepankan prinsip perlindungan warga sipil agar tragedi kemanusiaan tidak terus berulang di Tanah Papua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: