Kamis, 30 APRIL 2026 • 17:49 WIB

Longsor Putus Akses Waa-Banti, Warga Soroti Infrastruktur dan Dampak Limbah Tambang

Author

Kondisi akses jalan utama di kawasan Waa-Banti, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, yang terputus akibat longsor, Rabu (29/4/2026). (Ist)

PAPUA - Bencana longsor yang melanda Kampung Waa-Banti, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menyebabkan lumpuh totalnya aktivitas masyarakat di wilayah tersebut. Jalur utama yang selama ini menjadi akses vital warga terputus akibat material longsor dan kerusakan badan jalan di sejumlah titik rawan.

Situasi tersebut membuat warga kesulitan memperoleh kebutuhan pokok, mulai dari bahan makanan, minuman, hingga kebutuhan harian lainnya. Kondisi geografis lembah yang dikelilingi lereng curam memperparah dampak longsor dan menghambat mobilitas masyarakat.

Tokoh masyarakat, Natalis Bugaleng, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi yang kini dihadapi warga Waa-Banti. Meski demikian, ia tetap memberikan apresiasi terhadap langkah cepat yang dilakukan PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama Pemerintah Daerah.

“KamI sangat mengapresiasi tim kerja dari PTFI dan Pemerintah Daerah yang sudah langsung turun lapangan menyikapi situasi longsor yang terjadi di lembah Waa-Banti,” ujar Natalis.

Menurutnya, penanganan darurat yang dilakukan saat ini perlu dilanjutkan dengan langkah yang lebih serius dan berkelanjutan. Ia menilai persoalan di Waa-Banti bukan hanya soal longsor sesaat, tetapi menyangkut keamanan jangka panjang masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.

Baca juga: Longsor Lumpuhkan Waa-Banti, Warga Terisolasi Dan Soroti Dampak Lingkungan Serta Infrastruktur

“Kami berharap agar PTFI dan Pemerintah Daerah lebih serius melihat persoalan ini, untuk membenahi jalan, jembatan dan akses lainnya yang rusak,” katanya.

Natalis menilai jalur utama yang digunakan masyarakat selama ini sebenarnya sudah tidak layak lagi menjadi akses permanen. Kondisi jalan yang berada di lereng jurang dan bekas aliran sungai disebut sangat rentan mengalami longsor setiap musim hujan.

“Adapun jalan utama yang menjadi akses bagi masyarakat setempat adalah tempat yang sudah tidak layak untuk dibangun jalan utama, mengingat di tempat-tempat tersebut lereng jurang dan bekas aliran kali, sudah sering terjadi longsor dan jalan putus,” jelasnya.

Karena itu, ia meminta agar pembangunan kembali akses jalan dan jembatan tidak dilakukan secara tergesa-gesa tanpa kajian mendalam. Menurutnya, perlu ada evaluasi teknis menyeluruh agar masyarakat tidak terus hidup dalam ancaman bencana yang sama.

“Di sarankan kepada tim kerja dan tim ahli PTFI agar mengkaji tempat-tempat tersebut layak untuk bangun jalan dan jembatan atau tidak,” tambah Natalis.

Baca juga: One Day Trip di Jayapura: Jelajahi Mutiara Hitam dari Pagi hingga Malam

Di luar persoalan infrastruktur, Natalis juga menyoroti kondisi lingkungan di sekitar permukiman warga. Ia menyebut masyarakat Waa-Banti selama ini hidup di tengah dampak limbah perusahaan tambang yang dinilai telah merusak ruang hidup masyarakat adat.

“Terlepas dari situasi tersebut, persoalan besar yang sedang dialami oleh masyarakat setempat adalah mereka hidup dalam lingkungan yang penuh dengan limbah PTFI seperti rumah dibangun di pinggir kali limbah perusahaan, tempat berkebun, tempat dusun semuanya sudah kena limbah habis,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, menurut Natalis, membuat kehidupan masyarakat setempat semakin memprihatinkan. Selain kehilangan akses jalan, warga juga kehilangan ruang hidup produktif yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan keluarga.

“Sehingga kehidupan masyarakat setempat sangat di prihatinkan, itu persoalan besar bagi PTFI dan pemerintah untuk memberikan kehidupan yang layak bagi warga masyarakat di kampung Waa-Banti,” katanya lagi.

Ia kemudian mempertanyakan sejauh mana komitmen perusahaan dalam memberikan kesejahteraan bagi masyarakat lokal yang berada paling dekat dengan aktivitas pertambangan.

“Pertanyaan besar bagi PTFI saat ini adalah, sudahkah PTFI memberikan yang terbaik untuk masyarakat Waa-Banti yang sudah menjadi korban permanen atas keberadaan PTFI di kampung Waa-Banti?” tegas Natalis.

Natalis berharap masyarakat Waa-Banti juga dapat menikmati kualitas hidup yang setara dengan lingkungan modern yang berada di area perusahaan. Menurutnya, kehadiran industri besar seharusnya membawa dampak kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat sekitar.

Baca juga: Batik Papua Mendunia: Jejak Sejarah dan Ragam Motif yang Sarat Makna

“Saran saya untuk PTFI bahwa kehidupan masyarakat Waa-Banti sudah seharusnya layak seperti keluarga besar karyawan PTFI dalam lingkungan area perusahaan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan yang hanya berorientasi pada eksploitasi sumber daya tanpa memperhatikan kehidupan masyarakat akan menimbulkan ketimpangan sosial yang semakin dalam.

“Masyarakatnya di abaikan dan alamnya di keruk habis-habisan itu sama dengan mengabaikan MoU awal (kehidupan yang setara),” pungkasnya.

Situasi di Waa-Banti kini menjadi sorotan penting mengenai hubungan antara pembangunan industri, keselamatan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan di Papua. Di tengah kekayaan alam yang terus dieksploitasi, warga berharap keselamatan dan masa depan mereka tidak lagi diabaikan.

Bagi masyarakat setempat, bencana longsor ini bukan sekadar kerusakan jalan. Peristiwa tersebut menjadi simbol luka panjang tentang ketimpangan pembangunan yang masih dirasakan hingga hari ini di tanah Papua.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU