Papua Barat - Pesona Pegunungan Arfak di Papua Barat kembali menjadi sorotan dunia internasional. Bukan karena panorama hutannya yang menakjubkan, melainkan karena keindahan dan keragaman kupu-kupu endemik yang hidup di kawasan tersebut. Daya tarik ini bahkan berhasil menarik perhatian dr. Franco, seorang wisatawan minat khusus serangga asal Prancis, yang datang langsung ke Manokwari untuk menyaksikan keunikan serangga tropis, terutama kupu-kupu Arfak yang terkenal di kalangan kolektor dunia.
Kunjungan ini disambut hangat oleh Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, yang tengah mendorong pengembangan eko-eduwisata berbasis hutan lestari dan satwa liar.
Dalam pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Dinas Kehutanan, Kepala Bidang Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL), Altar Sawaki, S.Hut., M.Si., menegaskan bahwa kunjungan semacam ini menjadi bukti nyata bahwa potensi keanekaragaman hayati Papua Barat memiliki daya tarik tinggi di mata dunia.
“Kita memiliki kekayaan alam luar biasa yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan. Wisata minat khusus seperti ini tidak hanya memberikan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi sarana edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan dan satwa liar,” ujar Altar Sawaki.
Dalam kunjungannya, dr. Franco menyampaikan ketertarikannya terhadap jenis-jenis kupu-kupu dan serangga khas Arfak yang sulit ditemukan di belahan dunia lain. Ia menyebut, kecintaannya pada dunia serangga mendorongnya berkeliling dunia untuk memperkaya koleksi pribadi di Prancis.
Namun demikian, ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi wisatawan sepertinya, terutama dalam hal legalitas perdagangan spesimen satwa liar. Menurutnya, kepatuhan terhadap regulasi CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) menjadi hal penting agar kegiatan wisata berbasis koleksi tetap sesuai aturan dan tidak merusak ekosistem.
“Saya sangat menghargai upaya pemerintah daerah untuk menjaga keberlanjutan hutan. Jika ada sistem legal yang jelas, wisatawan bisa membeli spesimen secara sah dan mendukung ekonomi lokal tanpa merusak alam,” ungkap dr. Franco.
Hal senada disampaikan Egy Mcdelly, anggota Asosiasi Pengusaha Eksport Insek Indonesia, yang turut mendampingi tamu asal Prancis tersebut. Menurutnya, kepastian hukum dalam regulasi jual beli satwa — terutama yang termasuk daftar CITES — menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan dan ketertarikan wisatawan internasional.
“Jika regulasi dan pengawasan jelas, para wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tapi juga bisa berkontribusi langsung pada ekonomi lokal. Ini akan menjadi katalis besar bagi pertumbuhan wisata minat khusus di Pegaf,” ujar Egy.
Selain persoalan legalitas, Egy juga menyoroti tantangan sumber daya manusia dan infrastruktur yang masih perlu ditingkatkan. Akses menuju kawasan wisata di Pegunungan Arfak dinilai masih terbatas, sementara ketersediaan pemandu wisata terlatih yang memahami serangga dan satwa liar juga masih minim.
“Kami berharap pemerintah dapat melatih pemandu wisata khusus minat serangga. Jika hal ini terpenuhi, kami siap membantu mendatangkan lebih banyak turis dari luar negeri,” tambahnya optimistis.
Baca juga: Ratusan Massa FIM-WP-KPK Timika Gelar Aksi Damai Serukan Papua Darurat Militerisme
Pegunungan Arfak dikenal sebagai salah satu surga biodiversitas di dunia. Selain menjadi habitat beragam kupu-kupu endemik seperti Ornithoptera arfakensis, kawasan ini juga menyimpan banyak spesies burung langka dan tumbuhan khas hutan pegunungan Papua. Potensi ini menjadi daya tarik besar bagi wisatawan, peneliti, dan pecinta alam dari berbagai negara.
Dinas Kehutanan Papua Barat berkomitmen menjadikan kawasan ini sebagai model pengembangan eko-eduwisata berkelanjutan, yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga edukasi dan konservasi lingkungan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: