Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 11 NOVEMBER 2025 • 12:00 WIB

Menolak Lupa: Dua Puluh Empat Tahun Hilangnya Aristoteles Masoka, Saksi yang Tak Pernah Pulang dan Luka yang Tak Pernah Sembuh di Tanah Papua

Menolak Lupa: Dua Puluh Empat Tahun Hilangnya Aristoteles Masoka, Saksi yang Tak Pernah Pulang dan Luka yang Tak Pernah Sembuh di Tanah PapuaSketsa wajah Aristoteles Masoka berdampingan dengan gambar siluet Pegunungan Papua dan sosok Theys Hiyo Eluay, melambangkan penantian dan perjuangan keadilan yang tak pernah padam di Tanah Papua. (Istimewa)

Papua — Sudah 24 tahun berlalu sejak malam 10 November 2001 — malam yang masih membekas dalam ingatan rakyat Papua. Malam itu, Theys Hiyo Eluay, tokoh karismatik dan pemimpin besar bangsa Papua, menghadiri perayaan Hari Pahlawan di Markas Kopassus Hanurata, Hamadi. Ia tidak pernah kembali hidup-hidup.

Keesokan harinya, tubuhnya ditemukan tak bernyawa di Koya Tengah, di dekat perbatasan Papua Nugini. Namun yang tidak pernah ditemukan hingga hari ini adalah Aristoteles Masoka — sopir muda yang setia menemani Theys malam itu.

Sejak saat itu, nama Aristoteles menjadi bagian dari sejarah panjang pelanggaran HAM di Tanah Papua — sejarah yang diwarnai darah, air mata, dan diamnya negara.

Aristoteles, yang kala itu berusia 23 tahun, dikenal sebagai pemuda yang tenang dan sopan. Ia bukan aktivis, bukan pejabat, bukan politikus. Ia hanya seorang sopir, yang malam itu kebetulan mengantar tuannya menghadiri undangan resmi militer. Namun, takdir membawanya menjadi bagian dari tragedi yang menggetarkan nurani bangsa.

Baca juga: Wisata Kupu-Kupu Arfak Menarik Wisatawan Asal Prancis: Dinas Kehutanan Papua Barat Dorong Penguatan Ekowisata Berbasis Legalitas dan Konservasi

Menurut catatan Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua (KPHHP), Aristoteles terakhir kali terlihat bersama Theys di dalam mobil saat meninggalkan Markas Kopassus. Sejak itu, jejaknya lenyap. Tidak ada kabar, tidak ada laporan resmi, tidak ada pencarian serius.

“Selama 24 tahun, negara belum mampu menjelaskan di mana Aristoteles,” tulis KPHHP dalam siaran pers bertajuk Menolak Lupa: 24 Tahun Tindakan Penghilangan Paksa terhadap Aristoteles Masoka yang diterima Jubi.id pada Senin (10/11/2025).
“Padahal hukum jelas menyebut, penghilangan paksa adalah kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Di sebuah rumah sederhana di pinggiran Jayapura, Yonas Masoka, ayah Aristoteles, masih menyimpan foto anaknya yang mulai pudar warnanya. Dalam wawancara tahun 2016 di Kantor Elsham Papua, suaranya bergetar saat menyebut nama anaknya.

“Sudah 15 tahun negara menghilangkan anak saya dan diam seribu bahasa. Tidak ada perhatian dari presiden ke presiden,” ujar Yonas dengan nada lirih.
“Pembunuhan terhadap Theys dan penghilangan Aristoteles itu sudah terencana.”

Kini, hampir sepuluh tahun sejak pernyataan itu, Yonas semakin tua, dan penantian itu semakin sunyi. Tak ada kepastian, tak ada makam untuk diziarahi. Ia hanya tahu bahwa suatu malam, anaknya pergi untuk bekerja — dan tidak pernah pulang.

Meski Pengadilan Militer telah menjatuhkan hukuman terhadap beberapa anggota Kopassus yang terlibat dalam pembunuhan Theys Eluay, kasus hilangnya Aristoteles tak pernah menjadi bagian dari proses hukum itu. Tidak ada satu pun yang dimintai pertanggungjawaban.

Pada 2018, Komnas HAM Papua melalui Frits Ramandey pernah menyoroti kejanggalan kasus ini.

“Dalam BAP, para tersangka sempat berinteraksi dengan Aristoteles sejak dari markas hingga di Skyland. Seharusnya dari situ Mahkamah Militer bisa menelusuri keberadaannya,” kata Ramandey.

Sementara pada 2014, Otto Nur Abdullah dari Komnas HAM RI telah menyatakan rencana membuka kembali kasus pembunuhan Theys dan penghilangan Aristoteles. Namun hingga kini, janji itu tak pernah benar-benar diwujudkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menolak Lupa: Dua Puluh Empat Tahun Hilangnya Aristoteles Masoka, Saksi yang Tak Pernah Pulang dan Luka yang Tak Pernah Sembuh di Tanah Papua

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!