Burung Sikatan Biak jantan bertengger di kawasan hutan Pulau Biak, Papua Barat. (BHW)
PAPUA - Pulau Biak di Provinsi Papua Barat tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan kekayaan lautnya, tetapi juga menjadi rumah bagi salah satu satwa endemik unik yang jarang diketahui banyak orang, yakni Burung Sikatan Biak. Burung kecil ini merupakan spesies asli Papua yang hanya dapat ditemukan di kawasan tertentu di Teluk Cenderawasih.
Burung Sikatan Biak memiliki nama ilmiah Myiagra atra. Nama tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Meyer pada tahun 1874. Dalam bahasa Inggris, burung ini dikenal dengan beberapa nama, seperti Biak Flycatcher, Biak Black Flycatcher, atau Black Myiagra.
Sebagai satwa endemik, Sikatan Biak tidak ditemukan di wilayah lain di dunia. Habitat alaminya berada di Pulau Biak, Supiori, Numfor, hingga kawasan Rani di Teluk Cenderawasih. Burung ini hidup di kawasan hutan dataran rendah tropis yang lembab serta hutan bakau yang masih terjaga.
Keberadaan spesies ini menjadi bagian penting dari kekayaan biodiversitas Papua yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Meski berukuran kecil, Sikatan Biak memiliki ciri khas yang membuatnya mudah dikenali.
Baca juga: Plat A Daerah Mana? Ini Daftar Lengkap Kota dan Kode Belakangnya
Burung jantan memiliki bulu berwarna hitam kebiruan yang tampak mengkilap saat terkena cahaya matahari. Dari kejauhan, warna bulunya terlihat elegan dengan kilauan biru gelap yang mencolok. Sementara iris mata, paruh, dan kaki burung jantan seluruhnya berwarna hitam.
Berbeda dengan pejantan, burung betina memiliki kombinasi warna yang lebih kontras. Bagian atas tubuhnya berwarna gelap, sedangkan bagian bawah tubuhnya didominasi warna putih. Perbedaan warna tersebut menjadi salah satu penanda utama antara Sikatan Biak jantan dan betina di habitat aslinya.
Meski hanya memiliki ukuran tubuh sekitar 13 sentimeter, Sikatan Biak termasuk burung yang lincah dan aktif bergerak di antara pepohonan. Satwa ini masuk dalam kelompok insektivora atau pemakan serangga. Mereka biasanya berburu serangga kecil di kawasan hutan primer, hutan sekunder, hingga hutan bekas tebangan pada ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut.
Tidak seperti beberapa jenis burung lain yang bermigrasi mengikuti musim, Sikatan Biak merupakan spesies menetap. Burung ini menghabiskan seluruh siklus hidupnya di kawasan Papua, khususnya di Pulau Biak dan sekitarnya. Masa hidupnya diperkirakan dapat mencapai sekitar 4,5 tahun di alam liar.
Keunikan lainnya, Sikatan Biak juga kadang ditemukan di kawasan hutan bakau. Hal ini menunjukkan kemampuan adaptasi satwa tersebut terhadap lingkungan pesisir yang masih alami. Namun, populasi mereka tetap sangat bergantung pada kelestarian tutupan hutan di Papua.
Baca juga: Pilihan Destinasi Wisata Edukasi Terbaik Di Papua
Dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan Sikatan Biak mulai menghadapi ancaman akibat menyusutnya habitat alami. Pembukaan lahan dan kerusakan hutan menjadi salah satu faktor yang dikhawatirkan dapat mengurangi populasi satwa endemik ini di masa mendatang.
Meski demikian, harapan untuk mempertahankan keberadaan Sikatan Biak masih terbuka. Kawasan pedalaman Supiori yang masih memiliki tutupan hutan cukup baik menjadi salah satu habitat penting yang diyakini masih mampu menopang populasi burung ini.
Lembaga konservasi internasional IUCN bahkan telah memasukkan Sikatan Biak dalam kategori Near Threatened atau hampir terancam punah. Status tersebut menjadi peringatan bahwa spesies ini membutuhkan perhatian serius agar tidak mengalami penurunan populasi yang lebih drastis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Daerah Kita