PAPUA - Di balik rimbunnya hutan dan sejuknya udara Pulau Biak, terdapat sebuah situs bersejarah yang menyimpan kisah panjang masa lalu, yakni Gua Binsari. Tempat ini tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai saksi bisu peristiwa Perang Dunia II di wilayah Papua.
Gua Binsari yang berada di Kabupaten Biak Numfor kerap disebut masyarakat sebagai Gua Jepang. Sebutan ini muncul karena gua tersebut pernah digunakan oleh tentara Jepang sebagai lokasi strategis selama masa perang.
Keberadaan gua ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, terutama mereka yang memiliki ketertarikan pada sejarah dan peninggalan perang. Selain menawarkan pengalaman wisata, tempat ini juga menghadirkan pembelajaran sejarah secara langsung.
Pada masa perang, gua yang berada sekitar 15 hingga 20 meter di bawah permukaan tanah ini digunakan untuk menyimpan berbagai kebutuhan militer. Mulai dari makanan, obat-obatan, hingga bahan bakar disimpan di lokasi tersebut.
Baca juga: Ikon Wisata Puncak Jayapura City Tawarkan Panorama Kota dari Ketinggian
Awalnya, masyarakat lokal memanfaatkan gua ini sebagai tempat tinggal dan berkebun. Namun, seiring masuknya tentara Jepang, fungsi gua berubah menjadi lokasi penting dalam strategi perang.
Dalam bahasa Biak, gua ini dikenal dengan nama Abyab Binsari yang berarti “seorang nenek”. Nama tersebut berasal dari cerita masyarakat yang kerap mendengar suara tangisan dari dalam gua.
Sejarah mencatat, kawasan ini menjadi bagian dari pertempuran antara pasukan Jepang dan Sekutu. Pertempuran tersebut bahkan berujung pada pemboman di sekitar wilayah gua.
Menurut keterangan pengelola, ribuan tentara Jepang pernah ditempatkan di wilayah Biak dan Supiori. Sekitar 3.000 di antaranya berada di sekitar Gua Binsari.
Berbagai peninggalan perang masih dapat ditemukan di lokasi ini. Mulai dari tulang belulang tentara, granat, hingga rudal berkarat kini dikumpulkan dan dipajang dalam museum kecil di area gua.
Sejak dibuka untuk umum pada tahun 1990-an, pengelolaan Gua Binsari masih dilakukan secara mandiri oleh masyarakat setempat. Keluarga pengelola telah merawat situs ini secara turun-temurun.
Selain nilai sejarah, gua ini juga dikenal memiliki nuansa mistis. Beberapa pengunjung mengaku pernah mendengar suara aneh hingga melihat penampakan yang diyakini sebagai arwah tentara.
Cerita-cerita tersebut justru menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman berbeda saat berkunjung ke lokasi ini.
Meski demikian, pengelola berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah untuk pengembangan fasilitas. Kebutuhan seperti pemagaran, perbaikan infrastruktur, dan pembangunan museum yang lebih layak menjadi harapan utama.
Baca juga: Pesona Panjat Tebing Papua Dari Carstensz Pyramid Hingga Arena Sport Climbing
Salah satu isu yang juga menjadi perhatian adalah pengelolaan tulang belulang tentara Jepang yang ditemukan di dalam gua. Sejak 1999, sebagian telah dipulangkan ke Jepang untuk proses identifikasi dan kremasi.
Namun, pihak pengelola berharap sebagian peninggalan tersebut tetap berada di Biak sebagai bukti sejarah yang dapat dipelajari generasi mendatang.
Sebagai destinasi wisata edukatif, Gua Binsari juga rutin menerima kunjungan pelajar dari berbagai daerah. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran langsung tentang sejarah Perang Dunia II di Papua.
Akses menuju gua pun telah ditata dengan baik. Pengunjung dapat menyusuri jalan setapak yang dilengkapi paving blok dan tangga untuk memudahkan eksplorasi.
Meski berada di area yang cukup gelap karena tertutup pepohonan, pengelola telah menyediakan fasilitas pengaman untuk menjaga keselamatan pengunjung.
Gua Binsari kini tidak sekadar menjadi objek wisata, tetapi juga simbol perjalanan sejarah yang panjang. Tempat ini mengingatkan bahwa Papua memiliki warisan masa lalu yang kaya dan penting untuk terus dijaga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: