PAPUA - Festival Pasifika kembali menyedot perhatian publik internasional setelah berhasil menarik lebih dari 25 ribu pengunjung yang memadati Western Springs Lakeside Park, Auckland, Selandia Baru, pada akhir pekan lalu. Festival budaya tahunan tersebut menjadi ajang perayaan keberagaman masyarakat kepulauan Pasifik sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas yang hidup di kawasan tersebut.
Festival yang pertama kali digelar pada 1993 itu kini berkembang menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Selandia Baru. Setiap tahunnya, ribuan warga dari berbagai latar belakang budaya berkumpul untuk menikmati kekayaan tradisi, kesenian, kuliner, serta warisan budaya masyarakat Pasifik.
Mengutip laporan RNZ Pasifik, para pengunjung terlihat berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya yang mewakili sedikitnya 11 negara dan wilayah Pasifik. Di antaranya Kepulauan Cook, Niue, Aotearoa atau Selandia Baru, Samoa, Tuvalu, Fiji, dan Tonga.
Selain itu, kawasan Fale Pasifika Collective Village turut menghadirkan budaya dari Kiribati, Tokelau, Hawaiʻi, dan Tahiti. Setiap area menampilkan ciri khas budaya masing-masing melalui tarian tradisional, musik, kerajinan tangan, hingga kuliner khas yang menjadi daya tarik utama festival.
Suasana festival berlangsung semarak sejak pagi hingga sore hari. Berbagai kelompok seni tampil bergantian membawakan pertunjukan budaya, sementara ribuan pengunjung menikmati sajian makanan khas kepulauan Pasifik serta mengunjungi puluhan stan yang menjual hasil kerajinan tradisional.
Penyelenggara Festival Pasifika, Jep Savali, mengatakan acara tersebut telah menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Pasifik di Selandia Baru. Menurutnya, festival bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah migrasi masyarakat Pasifika yang telah lama menetap di Auckland.
"Ini adalah rumah spiritual Festival Pasifika… ini adalah whenua (tanah kami). Bagi kami, ini adalah cara memberi penghormatan kepada keluarga dan generasi yang telah lama tinggal di sini sejak migrasi mereka ke Aotearoa, khususnya di pusat Auckland," kata Savali.
Ia menambahkan bahwa Festival Pasifika merupakan momentum untuk merayakan akar budaya, garis keturunan, bahasa, makanan, seni pertunjukan, hingga jati diri masyarakat Pasifik yang hidup berdampingan di Selandia Baru.
"Ini perayaan yang sangat penting. Perayaan tentang siapa kita, garis keturunan, budaya, pertunjukan, tarian, makanan, dan jati diri kami sebagai sebuah bangsa," tambahnya.
Festival tersebut juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Sepi Pepa, pengunjung asal Utah, Amerika Serikat, mengaku terkesan dengan konsep festival yang memberikan ruang tersendiri bagi setiap budaya untuk menampilkan identitasnya secara utuh.
"Kami tidak benar-benar memiliki acara seperti ini di tempat kami, kalaupun ada ukurannya lebih kecil. Saya suka di sini setiap budaya diberi panggung sendiri. Biasanya di tempat kami semua tampil di satu panggung kecil, tetapi di sini setiap budaya bisa menampilkan identitasnya," ujar Pepa.
Baca juga: Bangunan Bersejarah Papua Jadi Saksi Perjalanan Peradaban
Kesan serupa disampaikan Nele Suvi yang berasal dari Estonia dan ikut tampil bersama kelompok tari Tahiti. Ia menilai keramahan masyarakat serta semangat pelestarian budaya menjadi pengalaman yang berbeda dibandingkan berbagai festival budaya yang pernah diikutinya di Eropa.
"Semua orang sangat ramah… suasananya luar biasa. Ini bahkan lebih dari yang saya bayangkan. Di Eropa kami tidak punya acara seperti ini, komunitasnya luar biasa. Saya sangat menyukai budaya kepulauan," kata Suvi.
Direktur Artistik Polynesian Entertainers, Amo Ieriko, mengatakan Festival Pasifika kini telah berkembang menjadi agenda budaya bertaraf internasional. Menurutnya, peserta dan pengunjung tidak hanya berasal dari Auckland, tetapi juga dari berbagai wilayah Selandia Baru hingga negara-negara kepulauan Pasifik.
"Festival Pasifika bagi kami adalah salah satu puncak acara Pasifika setiap tahun. Di seluruh wilayah Selandia Baru, orang-orang dari berbagai daerah dari Wellington hingga Dunedin ikut berpartisipasi. Jadi ini sangat penting bagi seluruh komunitas Pasifika, Melanesia, dan Polinesia," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Auckland atau Tamaki Makaurau telah menjadi pusat pertemuan masyarakat Pasifik. Tidak mengherankan jika festival tersebut kini dikenal luas hingga ke Tahiti, Samoa, Hawaiʻi, dan berbagai wilayah lain di kawasan Samudra Pasifik.
"Tamaki Makaurau (Auckland) adalah pusat pertemuan masyarakat Pasifik… semua pulau dan wilayah Pasifik terwakili di sini. Festival ini dikenal di seluruh samudra Pasifik orang-orang dari Tahiti dan Samoa membicarakannya, bahkan Hawaiʻi mengirim kelompok penampil. Ini acara internasional yang sangat besar bagi masyarakat Pasifik," kata Ieriko.
Festival ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mempertahankan identitas budaya mereka melalui seni pertunjukan. Penari muda asal Samoa, Leilani Slade-Le Pua, mengatakan tampil di Festival Pasifika merupakan salah satu cara menjaga tradisi tetap hidup sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat dunia.
"Ini tentang menjaga budaya kami tetap hidup. Dengan melakukan ini, kami tetap berpijak pada tradisi dan budaya kami."
"Ini salah satu cara mengekspresikan budaya kami melalui tarian pertunjukan, memperlihatkan kepada orang-orang apa yang bisa kami lakukan dan bagaimana kami menampilkannya. Ini baru satu bagian dari budaya kami. Masih banyak bagian lain, tetapi inilah cara kami menampilkannya kepada banyak orang di Pasifika."
Meski Festival Pasifika 2026 telah berakhir, semangat pelestarian budaya di Auckland masih akan berlanjut. Mulai 18 Maret 2026, panggung budaya kembali hadir melalui ASB Polyfest yang menampilkan ribuan pelajar dari berbagai sekolah di Selandia Baru dalam pertunjukan seni, budaya, dan bahasa dari berbagai komunitas Pasifik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jubi