PAPUA - Aroma khas ikan asap langsung menyambut setiap orang yang memasuki gang kecil di belakang Hotel Asia, tepat di samping Pasar Hamadi, Kota Jayapura. Di lokasi sederhana itu, sebuah dapur pengasapan ikan terus beroperasi, menjaga tradisi kuliner khas Papua yang telah diwariskan selama tiga generasi.
Dapur tersebut dikenal sebagai Dapur Blektelsi, tempat produksi ikan asar milik Mama Weldemina Marerabuyan. Berkat ketekunan keluarga dalam menjaga kualitas dan cita rasa, usaha yang semula hanya melayani kebutuhan masyarakat sekitar kini berkembang menjadi salah satu sentra oleh-oleh khas Papua yang banyak diburu wisatawan.
Pada Senin (18/5/2026), aktivitas di dapur berlangsung seperti biasa. Martha Wanggai bersama Hellen Marerabuyan tampak sibuk mengangkat ikan satu per satu dari atas tungku pengasapan setelah melalui proses pemasakan selama beberapa jam.
Di balik kesibukan tersebut tersimpan kisah panjang sebuah usaha keluarga yang telah bertahan puluhan tahun. Tradisi mengolah ikan asar bermula dari kakek dan nenek mereka, kemudian diteruskan oleh Mama Weldemina Marerabuyan, hingga kini dijalankan oleh anak-anak serta cucu-cucunya.
"Ini usaha ikan asar orang tua yang punya, Mama yang punya. Cuma kami anak-anak bekerja saja. Usaha ikan asar Blektelsi ini sudah 20 tahun lebih. Tapi kita punya Tete (kakek) dan Nene (nenek) dulu usahanya juga dari ikan asar. Lalu turun ke orang tua dan sekarang kita anak-anak lagi masih melanjutkan," ujar Martha.
Keberlangsungan usaha tersebut tidak hanya menjaga warisan keluarga, tetapi juga mempererat kebersamaan antaranggota keluarga. Hampir seluruh proses produksi dilakukan secara gotong royong, mulai dari membeli ikan segar hingga proses pengasapan dan penjualan.
Baca juga: Nelayan Jayapura Resah, Rencana Blok Migas Northern Papua Dinilai Ancam Mata Pencaharian
Hellen Marerabuyan mengatakan dapur produksi menjadi tempat berkumpul seluruh anggota keluarga. Anak-anak hingga cucu ikut membantu setelah pulang sekolah sebagai bagian dari proses belajar sekaligus menjaga usaha keluarga tetap berjalan.
"Semua prosesnya dijalankan oleh cucu dan anak-anak, tiap hari aktivitasnya begini untuk membantu keluarga. Anak-anak kami juga ikut membantu sehabis sekolah, dari hasil kerja itu kadang mereka dikasih uang pulsa," kata Hellen sambil tersenyum.
Setiap hari, Mama Weldemina membeli ikan segar, terutama ikan ekor kuning, dari Tempat Pelelangan Ikan (PPI) Hamadi. Setelah dibawa ke dapur, seluruh anggota keluarga langsung membagi tugas untuk membersihkan dan menyiapkan ikan sebelum diasapi.
Proses pembersihan dilakukan secara teliti agar kualitas ikan tetap terjaga. Setelah itu, setiap ekor ikan ditusuk menggunakan bilah bambu dari bagian ekor hingga kepala agar bentuknya tetap kokoh selama proses pengasapan berlangsung.
Tahapan pengasapan menjadi pekerjaan yang membutuhkan kesabaran. Martha dan Hellen bergantian menjaga tungku selama dua hingga lima jam, tergantung ukuran ikan yang sedang diproses. Proses tradisional inilah yang menghasilkan aroma serta cita rasa khas ikan asar Papua.
"Untuk yang kerjakan semua keluarga sendiri, ada cucu juga yang biasa ikut. Jadi dua anak, satu cucu, tambah Mama, jadi ada empat orang," kata Mama Weldemina.
Menurutnya, usaha keluarga semakin berkembang setelah memperoleh bantuan pembangunan dapur dari Dinas Perikanan Kota Jayapura. Sebelumnya, seluruh proses pengolahan masih dilakukan secara sederhana di ruang terbuka dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jubi