Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 29 JUNI 2026 • 13:32 WIB

Nelayan Jayapura Resah, Rencana Blok Migas Northern Papua Dinilai Ancam Mata Pencaharian

Nelayan Jayapura Resah, Rencana Blok Migas Northern Papua Dinilai Ancam Mata PencaharianAktivitas nelayan di Dermaga Dok 9, Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua. (Ist)

PAPUA - Rencana pengembangan Blok Migas Northern Papua mulai menimbulkan keresahan di kalangan nelayan tradisional Kota Jayapura. Mereka mengaku kehilangan sumber penghidupan setelah puluhan rumpon yang selama ini menjadi lokasi utama penangkapan ikan diputus dalam kegiatan survei seismik proyek migas tersebut.

Dermaga Dok 9 di Distrik Jayapura Utara yang biasanya dipenuhi aktivitas nelayan kini menjadi tempat berbagai keluhan disampaikan. Sejumlah nelayan mengaku hasil tangkapan terus menurun sejak akhir 2025, bersamaan dengan pelaksanaan survei geologi di kawasan perairan utara Papua.

Salah seorang anggota Kelompok Nelayan Karya di Inpres Dok 9, Yonas Lawan, mengatakan para nelayan sangat khawatir terhadap masa depan mereka apabila wilayah tangkap terus terganggu.

Menurutnya, rumpon merupakan aset penting yang dibangun secara swadaya dengan biaya mencapai puluhan juta rupiah. Keberadaan rumpon menjadi tempat berkumpulnya ikan seperti tuna, tongkol, dan cakalang yang menjadi sumber penghasilan utama masyarakat pesisir.

"Kami kaget, kami rasakan mereka sudah ganggu kami punya piring makan," kata Yonas Lawan.

Ia menjelaskan, hasil melaut selama ini telah membiayai kehidupan keluarganya, termasuk menyekolahkan enam anak hingga salah satunya berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.

Baca juga: Pemeriksaan Kesehatan Gratis Hadirkan Dokter Spesialis di Jayapura

"Kehidupan nelayan tergantung dari rumpon. Kita tak diberitahu, rumpon nelayan diputuskan, lalu dibawa ke darat," ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Kosmos Kendi dari Kelompok Nelayan BW Woi. Ia mengaku sudah sekitar dua bulan tidak lagi melaut karena rumpon kelompoknya telah diputus sehingga lokasi penangkapan ikan hilang.

"Rumpon itu kami punya dapur, mereka ganggu kami punya dapur," kata Kosmos.

Nelayan lainnya, Semba Rosumbere, menjelaskan bahwa rumpon ibarat rumah bagi ikan. Dengan adanya rumpon, nelayan tidak perlu melaut terlalu jauh sehingga biaya operasional dan risiko keselamatan dapat ditekan.

"Rumpon itu macam rumah ikan. Kami tidak mencari jauh-jauh lagi karena melaut jauh bisa menghilangkan nyawa," ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Papua, sebanyak 58 titik rumpon diputus selama pelaksanaan survei seismik yang berlangsung sejak Desember 2025 hingga Maret 2026. Jalur survei membentang dari Kota Jayapura hingga Kabupaten Supiori sebagai bagian dari pemetaan potensi minyak dan gas bumi di kawasan Northern Papua.

Para nelayan mengaku tidak pernah memperoleh informasi secara menyeluruh mengenai rencana pemutusan rumpon tersebut. Mereka baru mengetahui keberadaan proyek setelah mendapati rumpon yang biasa digunakan telah hilang ketika kembali melaut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jubi

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Nelayan Jayapura Resah, Rencana Blok Migas Northern Papua Dinilai Ancam Mata Pencaharian

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!