PAPUA - Bandar Udara Mozes Kilangin di Timika kini dikenal sebagai salah satu simpul transportasi udara terpenting di Tanah Papua. Namun, di balik statusnya sebagai bandara umum berskala internasional, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah fasilitas penerbangan khusus milik perusahaan pertambangan.
Sejarah bandara ini bermula pada akhir dekade 1960-an ketika PT Freeport Indonesia melalui induk perusahaannya membangun sarana penerbangan untuk menunjang aktivitas operasional tambang di kawasan Ertsberg dan Grasberg.
Pada masa awal operasinya, fungsi bandara sepenuhnya difokuskan untuk mendukung mobilitas logistik, tenaga kerja, serta para ahli yang terlibat dalam kegiatan pertambangan di wilayah Mimika.
Selama bertahun-tahun, status Bandar Udara Mozes Kilangin tetap sebagai bandara khusus yang melayani kebutuhan internal perusahaan. Operasionalnya belum diperuntukkan bagi layanan penerbangan komersial yang dapat diakses masyarakat luas.
Perubahan mulai terlihat ketika pemerintah menilai posisi Timika sangat strategis sebagai pintu masuk utama ke wilayah Papua bagian tengah. Kondisi tersebut mendorong munculnya gagasan untuk mengoptimalkan fungsi bandara agar dapat melayani kepentingan publik.
Momentum penting terjadi pada 18 Juli 2008 saat dilakukan pengembangan fasilitas bandara. Dengan landasan pacu sepanjang 2.930 meter, Mozes Kilangin dinilai mampu melayani pesawat berbadan lebar dan memenuhi sejumlah standar penerbangan internasional.
Baca juga: Papua Kini Terbagi Enam Provinsi, Ternyata Jumlah Kabupaten Dan Kotanya Mencapai Angka Ini
Kemajuan tersebut menjadi dasar bagi berbagai pihak untuk mendorong transformasi bandara menuju fungsi yang lebih luas. Pemerintah bersama PT Freeport Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Mimika kemudian membangun kesepahaman untuk membuka akses penerbangan umum.
Langkah strategis itu diwujudkan melalui penandatanganan kesepakatan bersama pada September 2013 yang melibatkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Pemerintah Kabupaten Mimika, dan PT Freeport Indonesia.
Sejak saat itu, pengelolaan operasional bandara mulai dialihkan secara bertahap kepada pemerintah melalui Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) di bawah Kementerian Perhubungan.
Baca juga: Deretan Kafe Live Music Ini Jadi Favorit Anak Muda Dan Wisatawan Papua
Transformasi semakin nyata ketika pemerintah melakukan renovasi besar-besaran. Terminal baru dengan luas sekitar 21 ribu meter persegi dibangun guna meningkatkan kapasitas pelayanan sekaligus memisahkan operasional penerbangan komersial dan penerbangan khusus perusahaan.
Peran Bandara Mozes Kilangin semakin penting ketika menjadi salah satu infrastruktur pendukung pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua. Bandara ini menjadi jalur utama mobilitas atlet, ofisial, dan logistik selama perhelatan olahraga nasional tersebut berlangsung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: