PAPUA - Papuan Food Festival 2026 mendapat apresiasi sebagai salah satu upaya nyata menjaga identitas budaya dan kearifan lokal masyarakat asli Papua di tengah perkembangan zaman yang terus membawa perubahan sosial dan budaya.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Sorong melalui mekanisme pengangkatan, Yonadap Trogea, menilai festival tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar kegiatan yang menampilkan aneka kuliner tradisional.
Menurutnya, agenda tersebut menjadi ruang penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa pangan lokal Papua merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah, budaya, dan identitas masyarakat adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: 122 Ribu Warga Papua Masih Mengungsi, YKKMP Desak Pemerintah Segera Cari Solusi Permanen
Pernyataan itu disampaikan Yonadap Trogea saat mewakili pimpinan DPR Kota Sorong pada penutupan Papuan Food Festival 2026 yang berlangsung di Belantara Papua, Kota Sorong, Sabtu (20/6/2026).
Papuan Food Festival 2026 diselenggarakan melalui kolaborasi Pemerintah Kota Sorong, Kolektif Lumbung Sagu, dan Yayasan Belantara Papua. Kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari, mulai 16 hingga 20 Juni 2026, dengan menghadirkan beragam kekayaan pangan lokal khas Papua.
Yonadap menyampaikan apresiasi kepada seluruh penyelenggara yang dinilai telah menghadirkan ruang edukasi budaya sekaligus memperkenalkan kembali potensi pangan tradisional kepada masyarakat luas.
Baca juga: Anggaran Rp8 Miliar Media Mimika Center Jadi Sorotan, Temuan BPK Picu Desakan Transparansi
Ia mengatakan Tanah Papua perlu belajar dari berbagai daerah di Indonesia yang berhasil mempertahankan identitas budaya di tengah pesatnya pembangunan, seperti Daerah Istimewa Yogyakarta maupun masyarakat Betawi di Jakarta yang tetap menjaga tradisi mereka.
Menurutnya, budaya dan identitas masyarakat asli Papua harus terus diwariskan kepada generasi muda agar mereka tidak kehilangan akar sejarah dan nilai-nilai yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat selama ratusan tahun.
Yonadap menegaskan bahwa pangan lokal tidak boleh dipandang hanya sebagai makanan tradisional, melainkan sebagai simbol identitas, pengetahuan, dan warisan budaya yang memiliki nilai penting bagi keberlangsungan masyarakat Papua.
Baca juga: Bapenda Mimika Jemput Warga Lewat Pajak Keliling, Bayar Pajak Kini Bisa Sambil Car Free Day
Ia mengingatkan bahwa apabila pangan lokal mulai ditinggalkan, maka sebagian identitas budaya Papua juga berpotensi ikut hilang. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar di tengah semakin kuatnya pengaruh globalisasi dan modernisasi terhadap kehidupan generasi muda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jubi