Rabu, 01 JULI 2026 • 10:57 WIB

Jejak Panjang Asal Usul Papua, Dari Migrasi Manusia Purba Hingga Perubahan Nama Yang Sarat Sejarah

Author

Ilustrasi

PAPUA - Papua merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki sejarah panjang, baik dari sisi geologi, perjalanan manusia purba, maupun perkembangan identitas wilayahnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kawasan ini telah dihuni manusia sejak puluhan ribu tahun lalu dan menjadi rumah bagi ratusan kelompok masyarakat adat dengan kebudayaan yang sangat beragam.

Sejumlah kajian arkeologi menyebutkan bahwa nenek moyang Orang Asli Papua (OAP) berasal dari rumpun ras Melanesia. Mereka diperkirakan mulai mendiami wilayah Papua sekitar 42.000 hingga 48.000 tahun yang lalu melalui proses migrasi yang berlangsung secara bertahap.

Pada masa tersebut, manusia Austromelanesid diyakini berjalan dari daratan Asia Tenggara melewati kepulauan Nusantara menuju Paparan Sahul, yaitu daratan luas yang pada zaman prasejarah masih menghubungkan Papua dengan Australia akibat permukaan laut yang lebih rendah dibandingkan saat ini.

Baca juga: Terungkap Pesona Kuala Kencana, Kota Modern Di Tengah Hutan Papua Yang Bikin Banyak Orang Takjub

Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah penyebaran manusia di kawasan Pasifik. Papua kemudian berkembang menjadi salah satu wilayah yang mempertahankan banyak karakter budaya dan tradisi masyarakat Melanesia hingga sekarang.

Keberagaman budaya di Papua tercermin dari banyaknya kelompok masyarakat adat yang mendiami wilayah tersebut. Hingga kini diperkirakan terdapat lebih dari 250 suku asli Papua, masing-masing memiliki bahasa, adat istiadat, sistem sosial, serta kisah asal-usul yang diwariskan secara turun-temurun.

Selain sejarah penduduknya, asal-usul nama Papua juga memiliki latar belakang yang panjang. Salah satu pendapat menyebutkan bahwa nama tersebut berasal dari bahasa Melayu Tidore, yakni Papo Ua, yang memiliki arti "tidak bersatu" atau "tidak bergabung", merujuk pada letak wilayah Papua yang berada jauh dari pusat kekuasaan Kesultanan Tidore.

Pendapat lain mengaitkan istilah Papua dengan bahasa Melayu kuno yang merujuk pada ciri fisik masyarakat Melanesia, yaitu rambut keriting. Penamaan tersebut kemudian dikenal luas melalui berbagai catatan perjalanan bangsa Eropa yang datang ke kawasan timur Nusantara.

Baca juga: Mengintip Fakta Besar Di Balik Freeport, Dari Tambang Raksasa Hingga Kota Modern Di Pegunungan Papua

Dalam catatan sejarah, pelaut Portugis Antonio d'Arbau pada tahun 1511 menyebut wilayah tersebut sebagai Os Papuas. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1528, pelaut Spanyol Alvaro de Saavedra menamai kawasan itu sebagai Isla de Oro atau Pulau Emas ketika melakukan pelayaran di wilayah Pasifik.

Memasuki masa kolonial, pemerintah Hindia Belanda menggunakan nama Nieuw Guinea atau Nugini Belanda untuk menyebut wilayah Papua. Nama tersebut digunakan selama masa pemerintahan kolonial hingga proses perubahan politik yang terjadi setelah Indonesia merdeka.

Setelah wilayah Papua bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, penyebutan nama daerah ini mengalami beberapa perubahan. Pada periode awal integrasi, nama Irian Barat digunakan sebagai identitas resmi wilayah tersebut.

Baca juga: 7 Warga Ikrar Kembali ke NKRI, Dandim Teluk Bintuni Ajak Bangun Daerah Lewat Jalan Damai

Istilah Irian juga sempat dikenal sebagai akronim dari "Ikut Republik Indonesia Anti-Netherland", meskipun makna tersebut lebih banyak berkembang dalam konteks politik pada masa itu. Selanjutnya, pada tahun 1973, Presiden Soeharto menetapkan nama Irian Jaya sebagai nama resmi provinsi tersebut.

Perubahan kembali terjadi pada era reformasi ketika pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Melalui kebijakan tersebut, nama Papua resmi digunakan kembali sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, identitas budaya, serta keberadaan masyarakat adat yang telah lama mendiami wilayah paling timur Indonesia itu. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU