PAPUA — Aroma kayu putih kini menjadi simbol kebangkitan ekonomi Kampung Bumi Muroh Indah (BMI), Distrik Bomberay, Kabupaten Fakfak. Kampung ini perlahan membangun identitas baru melalui pengelolaan komoditas kayu putih yang terus menunjukkan potensi besar dalam beberapa tahun terakhir.
Di kampung tersebut berdiri Rumah Produksi Kayu Putih yang dikelola Kelompok Karya Mandiri, sebuah kelompok usaha masyarakat yang dipimpin Al Bayan Iha. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi lokal yang didampingi Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, sekaligus menjadi wadah pengembangan komoditas yang lahir dari tanah setempat.
Tim Ekspedisi Patriot dari Tim C, yang terdiri dari Syabab, Ilham, Endah, dan Grace, melakukan penelitian di wilayah Bomberay dan Tomage. Mereka melakukan survei serta wawancara langsung di Rumah Produksi Kayu Putih BMI untuk mendalami perkembangan industri kayu putih di kampung tersebut.
Baca juga: Pemkab Boven Digoel dan Kejari Merauke Perkuat Sinergi Penanganan Hukum Daerah
Dalam penuturannya, Al Bayan Iha menjelaskan bahwa perjalanan kayu putih di Kampung BMI berawal pada 2014 melalui program reboisasi Dinas Kehutanan Kabupaten Fakfak di lahan tandus seluas 500 hektare. Pohon kayu putih yang ditanam menggantikan pohon kasuari mulai menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa tahun berikutnya.
Tahun 2019 menjadi tonggak penting ketika rumah produksi pertama mulai beroperasi dengan dukungan Dinas Perkebunan. Sejak itu, pengelolaan kayu putih semakin berkembang dan menjadi sumber penghidupan untuk masyarakat sekitar. Momentum ini kembali menguat pada 2025 dengan pembangunan gedung baru berstandar BPOM yang kini memasuki tahap penyelesaian untuk memperluas pasar serta memperkuat legalitas produk.
Al Bayan menuturkan bahwa semangat kelompok tidak hanya berhenti pada produksi minyak kayu putih. Mereka juga memiliki visi jangka panjang untuk mengembangkan komoditas ini melalui pembentukan koperasi obat tradisional dan pelatihan pengolahan lanjutan. Limbah produksi kayu putih bahkan direncanakan untuk diolah menjadi pembersih lantai dan pupuk organik agar bernilai ekonomi.
Lebih jauh, kelompok Karya Mandiri berharap lahirnya ikon “Kampung Kayu Putih” yang dapat menjadi identitas baru wilayah tersebut. Bibit-bibit kayu putih telah disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat agar lebih banyak warga terlibat dalam budidaya dan pengembangan komoditas lokal ini.
Rumah produksi juga terus meningkatkan kualitas outputnya. Selain minyak kayu putih murni bermerek Cajuput Oil, mereka kini memproduksi balsem kayu putih tanpa campuran tambahan. Produk tersebut mendapat respons positif karena kualitas dan kemurniannya sangat diandalkan masyarakat.
Baca juga: Bupati Boven Digoel Tinjau Asrama Mahasiswa di Merauke
Dukungan riset yang dilakukan berbagai pihak membuat kemasan kedua produk kini terus dikembangkan agar lebih menarik dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Upaya pengurusan izin BPOM juga tengah berjalan sebagai langkah penting untuk memperkuat kepercayaan publik.
Selama ini, dukungan terkuat datang dari masyarakat yang merasakan langsung manfaat minyak dan balsem kayu putih tersebut. Kepercayaan itu menjadi energi bagi kelompok Karya Mandiri untuk terus berkembang dan menghasilkan produk terbaik dari tanah mereka sendiri.
Dengan kerja keras, kolaborasi lintas sektor, dan semangat pemberdayaan masyarakat, Kampung BMI kini mulai memantapkan diri sebagai sentra kayu putih baru di Fakfak. Harapannya, komoditas ini dapat tumbuh menjadi produk unggulan daerah yang lahir dari desa, dikelola masyarakat, dan membawa harapan baru bagi ekonomi lokal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: