PAPUA - Situasi keamanan di wilayah Kabupaten Maybrat kembali menjadi sorotan setelah muncul klaim serangan dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap IV Sorong Raya terhadap pos militer Indonesia.
Dalam siaran pers yang dirilis, TPNPB menyatakan bahwa serangan tersebut terjadi pada 22 Maret 2026 di Kampung Sori, Distrik Aifat Selatan.
Kelompok tersebut mengklaim operasi dipimpin langsung oleh Komandan Operasi TPNPB Kodap IV Sorong Raya, Mayor Manfred Fatem.
Baca juga: Program Mudik Gratis Boven Digoel Resmi Diluncurkan, Fasilitasi Warga Rayakan Lebaran dan Paskah
Dalam pernyataannya, TPNPB menyebut serangan tersebut mengakibatkan delapan aparat militer Indonesia tewas di lokasi kejadian.
Selain itu, mereka juga mengklaim telah menyita sejumlah senjata dan amunisi milik aparat, termasuk satu pucuk FN Minimi MK3, satu pucuk M4, dua magazen, serta 49 butir amunisi kaliber 5.56.
TPNPB menyatakan bahwa seluruh logistik yang diperoleh tersebut akan digunakan untuk mendukung operasi mereka di wilayah Papua.
Dalam pernyataan yang sama, TPNPB menuntut agar pemerintah Indonesia mengakui keberadaan mereka sebagai pihak yang memperjuangkan kemerdekaan Papua.
Mereka juga meminta agar pemerintah menghentikan penyebutan terhadap kelompok mereka sebagai organisasi kriminal bersenjata.
Selain itu, TPNPB turut meminta kepada Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI Agus Subianto untuk mengakui anggota mereka yang gugur dalam pertempuran.
Baca juga: Waterboom Karang Senang Timika, Destinasi Liburan Keluarga Asri dan Nyaman di Tengah Pepohonan
Kelompok tersebut juga menyoroti dampak konflik terhadap masyarakat sipil, dengan klaim bahwa puluhan ribu warga telah mengungsi akibat situasi keamanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Papuanewsonline.com