Membaca Ulang Arah Transmigrasi di Perbatasan Senggi: Upaya Ekspedisi Patriot ITB Menggali Aspirasi, Memperkuat Infrastruktur, dan Kebersamaan
PAPUA - Distrik Senggi di Kabupaten Keerom merupakan salah satu kawasan perbatasan paling strategis di Papua. Terletak langsung di garis depan Indonesia yang berbatasan dengan Papua Nugini, wilayah ini selama bertahun-tahun menghadapi tantangan pembangunan yang kompleks. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan kondisi geografis yang menantang, Senggi tetap memiliki peran penting dalam menjaga batas negara serta memperkuat kehidupan masyarakat perbatasan.
Berangkat dari kepedulian terhadap kondisi wilayah 3T tersebut, Tim Ekspedisi Patriot ITB hadir sejak awal September 2025 untuk melakukan kajian komprehensif terhadap program transmigrasi yang sudah berlangsung hampir tiga dekade. Program ini melahirkan Satuan Permukiman 1 dan 2 yang kini berpusat di Kampung Woslay, dan sedang diarahkan menuju pembentukan kampung definitif bernama Kampung Soom.
Selama hampir tiga bulan, tim yang dipimpin Abdul Rohman Supandi turun langsung ke lapangan dan menggelar berbagai forum diskusi seperti FGD dan musyawarah kampung. Kehadiran tim disambut hangat oleh masyarakat, mulai dari Kepala Distrik hingga para guru, Ondoafi, kader kesehatan, serta warga OAP dan transmigran. Besarnya partisipasi masyarakat menggambarkan bahwa warga Senggi benar-benar ingin terlibat dalam merumuskan arah pembangunan kampung mereka.
Baca juga: Korpri Genap 54 Tahun, Sekda Papua Barat Serukan Penguatan Integritas dan Loyalitas ASN
Kepala Distrik Senggi, Daud Yunam, menilai bahwa kehadiran tim akademisi dari ITB membantu memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang dampak transmigrasi. Menurutnya, masyarakat perbatasan selama ini telah menjaga wilayah NKRI, sehingga perhatian seperti ini menjadi sangat berarti. Dari berbagai forum, sejumlah warga OAP menilai program transmigrasi memberi manfaat berupa bertambahnya fasilitas dasar, meningkatnya aktivitas pertanian, serta tumbuhnya ekonomi lokal. Beberapa warga bahkan menilai pembangunan di Papua kini lebih baik dibanding wilayah tetangga di Papua Nugini.
Namun masyarakat tidak hanya menyoroti keberhasilan yang telah dicapai. Para guru dan kepala kampung menekankan perlunya peningkatan fasilitas pendidikan, mulai dari bangunan sekolah hingga ketersediaan tenaga pengajar dan sarana belajar. Sementara itu, warga di berbagai kampung mengungkapkan kebutuhan akan tenaga medis tambahan, ketersediaan obat yang cukup, serta fasilitas kesehatan yang lebih layak.
Selain itu, jaringan listrik juga menjadi kebutuhan utama di kampung seperti Usku, Namla, dan Molof. Ketiadaan listrik membatasi aktivitas ekonomi dan sosial, sehingga warga berharap adanya percepatan pembangunan infrastruktur energi. Di sisi lain, masyarakat OAP terus menegaskan bahwa seluruh pembangunan tetap harus menghormati adat, budaya, dan tanah warisan leluhur mereka.
Potret kerukunan antara warga OAP dan transmigran menjadi temuan yang menonjol dalam kajian ini. Ayub Mangul, KUPT SP1 dari komunitas OAP, menggambarkan hubungan kedua kelompok sebagai hubungan yang saling menguatkan. Hal yang sama dirasakan oleh Hatta, seorang transmigran yang telah lama mengembangkan usaha pertanian dan peternakan kecil. Namun, sejumlah warga OAP masih berharap agar keterampilan pertanian yang dimiliki transmigran dapat dibagikan lebih intensif sehingga manfaatnya lebih merata.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot, Abdul Rohman Supandi, menilai bahwa transmigrasi memiliki peran penting dalam pemerataan penduduk serta percepatan pembangunan di wilayah terpencil. Ia menegaskan bahwa seluruh masukan warga akan disusun sebagai rekomendasi agar kebijakan pemerintah mendatang lebih selaras dengan kebutuhan masyarakat perbatasan. Baginya, pembangunan perbatasan tidak hanya terkait infrastruktur, tetapi juga berkaitan dengan kerukunan sosial, pelestarian budaya, dan arah pembangunan yang inklusif.
Serangkaian FGD dan kunjungan lapangan tersebut memperlihatkan bahwa baik masyarakat OAP maupun transmigran di Senggi memiliki tujuan bersama: menciptakan wilayah yang aman, rukun, serta mampu berdiri kuat sebagai beranda timur Indonesia. Kebersamaan dan kolaborasi antarwarga menjadi modal sosial penting untuk menjaga martabat Papua di garis depan NKRI.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: