Senin, 30 MARET 2026 • 08:09 WIB

Dari Tugas Kuliah, Pisang Naik Kelas Jadi Bisnis Kreatif

Author

Ilustrasi 

PAPUA - Berawal dari tugas perkuliahan, sekelompok mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih menghadirkan inovasi usaha berbasis pangan lokal.

Mereka membangun sebuah usaha mikro kecil dan menengah bernama “Cendrawasih Banana Treats” yang menjadikan pisang raja sebagai bahan utama camilan modern.

Inisiatif ini digagas oleh Agnes Ratu Tehresia Tail bersama enam rekannya yang ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap pisang.

Menurut mereka, pisang selama ini kerap dianggap sebagai makanan sederhana yang kurang memiliki nilai jual tinggi.

Baca juga: Ancaman Utang Proyek Mengintai Teluk Bintuni

Dari ide tersebut, lahirlah menu unggulan bernama Royal Bananique yang menjadi produk andalan dalam usaha mereka.

Produk ini menghadirkan konsep berbeda dari pisang goreng pada umumnya, dengan tampilan dan cita rasa yang lebih modern.

Pisang raja utuh diolah dengan balutan tepung basah dan tepung roti sehingga menghasilkan tekstur renyah setelah digoreng.

Keunikan utama terletak pada bagian tengah pisang yang dibuat kosong untuk diisi berbagai varian topping dan fla manis.

Selain produk utama, mereka juga menawarkan menu lain seperti Pisang Aroma, Cincau Bliss, dan Emerald Ice.

Baca juga: Dialog Papua Disorot, JDP Ingatkan Ubah Pendekatan

Menu-menu tersebut dipasarkan dengan harga terjangkau, berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 untuk menjangkau mahasiswa.

Pemilihan pisang sebagai bahan baku didasarkan pada ketersediaannya yang melimpah serta fleksibilitas dalam pengolahan.

Dengan inovasi yang tepat, bahan sederhana ini dinilai mampu memiliki nilai tambah dan bersaing dengan produk modern lainnya.

Dalam proses menjalankan usaha, berbagai tantangan turut dihadapi oleh tim mahasiswa tersebut.

Keterbatasan modal, koordinasi tim, hingga minimnya peralatan menjadi hambatan sejak tahap awal persiapan.

Sebagai ketua kelompok, Agnes berperan mengoordinasikan kebutuhan usaha sekaligus mengelola kontribusi anggota.

Persiapan penjualan dilakukan sehari sebelumnya dengan memanfaatkan peralatan sederhana yang dibawa dari tempat tinggal masing-masing.

Penjualan perdana digelar di lingkungan kampus dan mendapat respons cukup baik dari mahasiswa lain.

Meski cuaca sempat menjadi kendala, beberapa produk seperti Royal Bananique dan Cincau Bliss berhasil menarik minat pembeli.

Namun, tidak semua produk mendapatkan respons yang sama, seperti minuman Emerald Ice yang kurang diminati.

Baca juga: Pria Tewas Bersimbah Darah di Ruko Timika

Kondisi ini membuat keuntungan yang diperoleh belum sepenuhnya menutup modal awal yang telah dikeluarkan.

Meski demikian, pengalaman ini memberikan pembelajaran berharga mengenai manajemen usaha secara langsung.

Mahasiswa belajar tentang pengelolaan modal, kerja sama tim, hingga strategi pemasaran sederhana di lapangan.

Di luar konteks akademik, usaha ini juga menunjukkan potensi besar pengolahan pangan lokal sebagai peluang ekonomi.

Inovasi yang mereka lakukan membuktikan bahwa produk tradisional dapat dikemas lebih menarik dan relevan dengan tren masa kini.

Melalui pengalaman ini, mereka memahami bahwa kewirausahaan tidak hanya soal teori, tetapi juga adaptasi terhadap kondisi nyata.

Upaya kreatif tersebut diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk mengembangkan potensi lokal menjadi peluang usaha.

Bagi mereka, tugas kuliah ini menjadi awal perjalanan dalam memahami dunia bisnis secara nyata dan berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jubi

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU