PAPUA - Papua tidak hanya dikenal karena kekayaan alam dan budayanya, tetapi juga karena melahirkan tokoh-tokoh besar yang berjuang demi persatuan Indonesia. Di balik sejarah integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), terdapat nama-nama putra asli Papua yang rela mempertaruhkan hidup demi cita-cita kemerdekaan dan persatuan bangsa.
Perjuangan mereka bukan sekadar simbolik. Sebagian besar harus menghadapi pengasingan, penjara kolonial Belanda, hingga berbagai tekanan politik karena keberpihakan mereka terhadap Indonesia. Semangat nasionalisme yang tumbuh di tanah Papua itu kemudian mengantarkan mereka menjadi Pahlawan Nasional Republik Indonesia.
Hingga kini, tercatat lima tokoh asal Papua yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Mereka adalah Frans Kaisiepo, Marthen Indey, Silas Papare, Johannes Abraham Dimara, dan Machmud Singgirei Rumagesan. Kiprah mereka menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Kelima tokoh tersebut memiliki latar belakang berbeda, namun dipersatukan oleh satu tujuan yang sama, yakni memperjuangkan Papua agar tetap menjadi bagian dari Indonesia.
Baca juga: Sekolah Rakyat dan Koperasi Didorong Jadi Motor Pemerataan di Papua
Frans Kaisiepo
Frans Kaisiepo lahir di Pulau Biak pada 10 Oktober 1921. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting yang memperkenalkan semangat nasionalisme Indonesia di Papua pada masa penjajahan Belanda. Semangat itu tumbuh ketika dirinya mendapat pendidikan dan pembinaan dari Soegoro Atmoprasodjo, seorang tahanan politik eks Digulis yang menanamkan gagasan keindonesiaan kepada para pemuda Papua.
Salah satu peran penting Frans Kaisiepo dalam sejarah adalah ketika dirinya mengusulkan penggunaan nama “Irian” untuk menggantikan sebutan Papua atau Nederlands Nieuw Guinea dalam Konferensi Malino tahun 1946. Frans Kaisiepo mengusulkan gagasan tersebut dan ini sangat mengejutkan pihak Belanda. Karena ia mengusulkan agar nama Papua dan Nederlands Nieuw Guine yang dipakai selama ini ditiadakan dan diganti dengan kata atau nama IRIAN.
Frans Kaisiepo juga aktif menentang Belanda dan mendukung integrasi Papua ke Indonesia. Ia kemudian menjadi Gubernur Irian Barat dan berperan dalam menyukseskan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Atas jasa besarnya, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1993.
Marthen Indey
Marthen Indey lahir di Kampung Doromena, dekat Pegunungan Cyclops, pada 16 Maret 1912. Ia memiliki latar belakang sebagai polisi kolonial dan pernah menjadi tentara Sekutu berpangkat letnan pada Perang Dunia II. Namun, semangat nasionalisme membawanya berpihak kepada perjuangan Indonesia.
Marthen dikenal sebagai salah satu murid ideologis Soegoro Atmoprasodjo. Pada akhir 1945, ia pernah terlibat dalam upaya pembebasan Soegoro dari Penjara Hollandia. Meski gagal, peristiwa itu semakin memperkuat perlawanannya terhadap Belanda.
Baca juga: Papua Didorong Percepat Program 3 Juta Rumah, Fokus Penuhi Hunian Layak Masyarakat
Karena aktivitas politiknya, Marthen Indey ditangkap Belanda pada 1947 dan dipenjara selama tiga tahun. Setelah bebas, ia tetap aktif membantu perjuangan pembebasan Irian Barat, termasuk melindungi operasi infiltrasi Indonesia dalam Operasi Trikora.
Silas Papare
Silas Papare lahir di Serui pada 18 Desember 1918. Awalnya ia bekerja sebagai juru rawat sebelum kemudian menjadi tentara Sekutu berpangkat sersan saat Perang Dunia II. Setelah perang berakhir, ia kembali menjadi tenaga kesehatan dan bertugas di sekolah pamong praja di Kota Nica.
Di tempat itulah Silas Papare bertemu Soegoro Atmoprasodjo dan Marthen Indey. Bersama kedua tokoh tersebut, Silas mulai terlibat dalam perjuangan politik melawan Belanda.
Pada akhir 1946, Silas bersama Marthen Indey dan Corinus Krey berupaya mempengaruhi Batalion Papua untuk melakukan pemberontakan terhadap Belanda. Namun rencana itu bocor dan menyebabkan mereka ditangkap.
Baca juga: Panen Raya Jagung di Keerom Jadi Langkah Awal Menuju Lumbung Pangan Papua
Belanda mendatangkan bantuan dari Rabaul (Papua Timur). Akibatnya Silas Papare dan Marthin Indey ditangkap dan dipenjarakan di Hollandia (Jayapura).
Setelah dipindahkan ke Serui, Silas Papare bertemu dengan tokoh nasionalis asal Minahasa, Sam Ratulangi. Bersama Ratulangi, ia mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Perjuangannya terus berlanjut hingga dirinya menjadi anggota delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York tahun 1962.
Johannes Abraham Dimara
Johannes Abraham Dimara lahir di Korem, Biak Utara, pada 16 April 1916 dan dikenal luas dengan sebutan “Johanes Papua”. Ia pernah menjadi anggota Heiho pada masa pendudukan Jepang sebelum akhirnya bergabung dalam perjuangan Indonesia.
Dimara mulai mengenal perjuangan kemerdekaan Indonesia setelah bertemu Yosaphat Soedarso di Perairan Namlea tahun 1946. Sejak itu, ia aktif mengibarkan Merah Putih dan bergabung dalam Batalion Pattimura APRIS.
Sebagai putra asli Papua, Dimara kemudian dipercaya memimpin Organisasi Pembebasan Irian (OPI). Atas mandat Presiden Sukarno, ia memimpin operasi perjuangan di Irian Barat. Namun, pada 1954 dirinya tertangkap Belanda dan dipenjara di Boven Digul selama tujuh tahun.
Di sana ia dipisahkan dari anak buahnya. Mereka umumnya disiksa dengan tangan dirantai. Meski sudah di dalam tahanan, tangan mereka tetap diborgol.
Setelah bebas, Dimara menjadi delegasi Indonesia dalam sidang PBB terkait sengketa Irian Barat. Sosoknya bahkan disebut menginspirasi Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta.
Machmud Singgirei Rumagesan
Machmud Singgirei Rumagesan lahir di Kokas, Fakfak, Papua Barat, pada 27 Desember 1885. Ia dikenal sebagai tokoh adat dan kepala distrik Kokas yang berani melawan kebijakan kolonial Belanda.
Rumagesan menolak eksploitasi perusahaan minyak Belanda yang dianggap merugikan rakyat Papua. Sikap kritisnya membuat ia berkali-kali dipenjara oleh pemerintah kolonial di berbagai wilayah seperti Sorong, Manokwari, Hollandia, hingga Makassar.
Pada 1953, Rumagesan mendirikan Gerakan Tjenderawasi Revolusioner Irian Barat (GTRIB) di Makassar untuk membantu perjuangan pembebasan Irian Barat. Karena perjuangannya yang luar biasa, Presiden Sukarno memberinya julukan “Si Jago Tua dari Irian Barat.”
Rumagesan wafat pada 5 Juli 1964, namun ia sempat menyaksikan Papua menjadi bagian dari Indonesia seperti yang diperjuangkannya selama hidup.
Perjalanan lima tokoh besar Papua tersebut menjadi bukti bahwa sejarah Indonesia juga dibangun dari perjuangan masyarakat di ujung timur nusantara. Mereka bukan hanya simbol perjuangan Papua, tetapi juga simbol persatuan Indonesia yang lahir dari keberagaman dan pengorbanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Historia