Papua – Tim Ekspedisi Patriot, khususnya Tim C yang beranggotakan Syabab, Ilham, Endah, dan Grace, menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama pemangku kepentingan Distrik Tomage untuk membahas kondisi pertanian serta peluang pengembangan komoditas lokal. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pemerintah Distrik Tomage, penyuluh pertanian lapangan, perwakilan kelompok tani, BUMKam, PKK, KUD, dan sejumlah lembaga pendukung lainnya.
Dalam FGD ini, peserta memberikan gambaran lengkap mengenai kondisi pertanian di Tomage. Selain komoditas utama seperti padi, jagung, dan sayuran, terdapat potensi besar pada komoditas lain seperti kelapa, rambutan, kopi, dan lada yang dinilai memiliki nilai ekonomi untuk dikembangkan secara lebih serius.
Para peserta juga menguraikan alur rantai nilai pertanian mulai dari proses produksi hingga pemasaran ke kios dan konsumen akhir. Mereka menyoroti bahwa persoalan pemasaran masih menjadi tantangan besar akibat perbedaan harga antar wilayah dan keterbatasan produksi petani yang belum mampu memenuhi meningkatnya permintaan masyarakat, termasuk kebutuhan dari anggota Batalyon yang kini bermukim di Tomage.
Selain tantangan pemasaran, diskusi mengungkap tiga hambatan besar yang menekan sektor pertanian Tomage: tingkat keasaman tanah yang tinggi, sistem drainase yang belum optimal, serta minimnya dukungan teknis dari lembaga terkait dalam pengolahan lahan. Kondisi tersebut menyebabkan komoditas pangan seperti padi sulit mencapai produktivitas ideal.
Permasalahan tanah yang asam membuat budidaya tanaman pangan menjadi kurang efektif, terutama untuk padi, jagung, dan sayuran. Situasi ini semakin diperparah dengan genangan air di berbagai area sawah, menyulitkan petani melakukan pengolahan lahan dengan baik dan tepat waktu.
Di sisi lain, gangguan hama seperti sapi dan babi turut memperburuk produktivitas tanaman. Sejumlah petani mengaku bahwa kehilangan hasil panen akibat hewan liar masih terjadi setiap musim, dan penanganannya membutuhkan dukungan regulasi serta intervensi pemerintah.
Peserta FGD menegaskan bahwa penyelesaian persoalan pertanian Tomage tidak dapat dilakukan secara parsial. Mereka menilai perlunya intervensi serius dari lembaga teknis terutama dalam penyediaan sarana produksi, peningkatan kualitas lahan melalui penanganan keasaman tanah, serta pendampingan teknis berkelanjutan kepada petani.
Baca juga: Papua Barat Luncurkan Identitas Digital OAP untuk Percepatan Transformasi Layanan Publik
Kegiatan FGD Tim Ekspedisi Patriot yang berlangsung pada 18 November 2025 itu juga menekankan pentingnya peran aktif lembaga seperti Dinas Pertanian Kabupaten Fakfak, Dinas Perkebunan, dan lembaga pendukung lainnya agar dapat bersinergi membantu petani menghadapi hambatan teknis dan non-teknis.
Diskusi ditutup dengan kesepahaman bahwa masyarakat Distrik Tomage memiliki komitmen kuat untuk memajukan sektor pertanian lokal. Namun peningkatan produktivitas hanya dapat dicapai melalui kerja sama yang solid antara petani, pemerintah distrik, dan lembaga teknis terkait.
Dengan dukungan kebijakan, intervensi yang tepat, dan pendampingan yang konsisten, para peserta meyakini bahwa potensi komoditas lokal Tomage dapat berkembang secara optimal, berkelanjutan, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: