Massa demonstran long march menuju Kantor DPRK Mimika. (Ist)
Papua - Sejumlah massa yang menamakan diri sebagai solidaritas mahasiswa dan masyarakat Papua menggelar aksi demonstrasi memperingati 24 tahun pelaksanaan Otonomi Khusus (Otsus). Aksi dimulai dengan long march dari Pasar Lama, Timika Indah, dan SP2 menuju pusat pemerintahan daerah.
Sekitar pukul 10.30 WIT menunjukkan para demonstran telah memadati area depan gerbang Kantor DPRK Mimika. Mereka berkumpul sambil membawa berbagai spanduk yang berisi kritik terhadap pelaksanaan Otsus yang dinilai gagal memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Papua.
Dalam aksi tersebut terlihat sejumlah massa membentangkan spanduk bertuliskan “Kegagalan Otsus” serta “Selamatkan Komoditi Lokal”. Tidak sedikit pula dari mereka yang mengibarkan atribut bintang kejora sebagai simbol protes terhadap kebijakan yang dirasakan tidak berpihak kepada rakyat Papua.
Untuk menjaga situasi tetap kondusif, sekitar 100 personel gabungan dari Polres Mimika, Polsek Mimika Baru, dan Brimob Yon B Papua Tengah diterjunkan. Aparat disiagakan di beberapa titik sepanjang rute long march hingga halaman Kantor DPRK.
Baca juga: Tindaklanjuti Laporan Warga, Tim Gabungan Evaluasi Kandang Ayam di Tengah Permukiman Busiri Ujung
Kabag Ops Polres Mimika, AKP Henri Korwa, menyampaikan bahwa pihaknya mengedepankan pendekatan persuasif dalam menghadapi massa. Ia mengatakan bahwa sikap preventif menjadi prioritas agar aspirasi dapat disampaikan tanpa menimbulkan gangguan keamanan.
“Kita preventif, jadi kita lihat apa tuntutan mereka nanti,” ujarnya saat mengawasi jalannya aksi. Aparat memastikan akan memberi ruang bagi demonstran untuk menyampaikan pandangan mereka selama berlangsungnya kegiatan.
Para peserta aksi menyebut demonstrasi ini sebagai momentum kritis untuk mengevaluasi perjalanan Otsus yang telah berjalan lebih dari dua dekade. Menurut mereka, kebijakan yang seharusnya menjadi jembatan kesejahteraan justru dinilai membawa dampak sebaliknya.
Mereka menilai bahwa implementasi Otsus tidak banyak memberi perubahan positif bagi masyarakat Papua. Sebaliknya, berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan pembangunan dianggap semakin menekan kehidupan masyarakat asli Papua sebagai kelompok yang seharusnya paling merasakan manfaat kebijakan tersebut.
Baca juga: DAD Mimika Desak Evaluasi Total Otsus: 24 Tahun Berjalan, Kesejahteraan Dinilai Tak Tercapai
Aksi yang berlangsung ini disebut sebagai bentuk refleksi sekaligus protes terhadap kebijakan Otsus yang menurut massa tidak sesuai dengan harapan sejak pertama kali dijalankan. Mereka menegaskan bahwa 24 tahun Otsus bukan membawa kesejahteraan, melainkan telah menghancurkan harapan rakyat Papua.
Dengan berkumpul di depan gedung DPRK Mimika, para demonstran berharap tuntutan mereka dapat didengar langsung oleh para wakil rakyat. Mereka mendesak agar pemerintah kembali mengevaluasi total Otsus dan membuka ruang dialog yang lebih jujur mengenai masa depan Papua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: