PAPUA — Suasana haru namun penuh kegembiraan menyelimuti Balai Pertemuan SP 2 Kampung Woslay pada Sabtu, 29 November 2025. Hari itu menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Senggi yang telah menjalankan pendampingan lintas universitas selama lebih dari satu bulan. Melalui sebuah lokakarya berjudul Persepsi Jujur dari Senggi, tim dari lima perguruan tinggi nasional menyampaikan hasil kajian sekaligus berpamitan kepada masyarakat yang selama ini menjadi mitra kerja mereka.
Lokakarya berlangsung dalam atmosfer kekeluargaan yang kuat. Masyarakat adat, warga transmigran, tokoh kampung, pemuka agama, aparat distrik, hingga perwakilan pemerintah kabupaten hadir memberikan dukungan. Interaksi hangat antara peserta dan warga terlihat sepanjang acara, mencerminkan kedekatan yang terjalin selama proses pendampingan dan penelitian di lapangan.
Acara dibuka dengan sambutan Plt. Dinas Transmigrasi Provinsi Papua, Irawati, yang memberikan apresiasi tinggi atas kerja kolaboratif TEP. Ia menyatakan bahwa keterlibatan lima perguruan tinggi telah memberikan sudut pandang objektif terhadap dinamika transmigrasi dan perkembangan sosial di Senggi. Sambutan berikutnya disampaikan oleh ondoafi setempat, Patras Kelpi, yang menekankan pentingnya dialog antara masyarakat adat dan transmigran demi menjaga keharmonisan sosial.
Paparan materi dari masing-masing perguruan tinggi menjadi bagian inti lokakarya. Tim Institut Teknologi Bandung (ITB) memaparkan evaluasi pelaksanaan program transmigrasi, mulai dari kondisi infrastruktur hingga akses layanan dasar yang masih perlu pembenahan. Mereka juga memberikan gambaran mengenai relasi sosial antara kelompok penduduk lama dan pendatang baru.
Universitas Padjadjaran (UNPAD) kemudian menyampaikan kajian tentang harmonisasi sosial yang menyoroti pentingnya pemahaman kultural antara Orang Asli Papua (OAP) dan warga transmigran. Mereka menegaskan bahwa dialog lintas budaya harus diperkuat agar integrasi sosial berjalan konstruktif dan inklusif di masa depan.
Paparan berlanjut dengan presentasi tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang memfokuskan rekomendasi pada kebutuhan infrastruktur dasar—mulai dari jalan, air bersih, hingga fasilitas umum yang dinilai belum merata. Sementara itu, tim Universitas Indonesia (UI) menyoroti penguatan kelembagaan ekonomi seperti kelompok tani dan koperasi, yang dinilai berpotensi menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi lokal.
Tak kalah penting, tim dari IPB University menekankan potensi pengembangan komoditas unggulan lokal, seperti padi, jagung, betatas, dan kakao. Menurut mereka, komoditas tersebut memiliki prospek industrialisasi skala kecil yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika dikelola secara tepat dan berkelanjutan.
Sesi diskusi yang dibuka setelah pemaparan materi memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Warga adat maupun transmigran mengutarakan kebutuhan ekonomi, peluang pengembangan komoditas, serta harapan terhadap peningkatan pelayanan publik. Kepala Puskesmas Senggi turut menyoroti urgensi tenaga medis tambahan dan fasilitas kesehatan yang memadai untuk menunjang kondisi demografis yang terus berkembang.
Baca juga: Bupati Boven Digoel Buka Temu KIM 2025, Dorong Penguatan Literasi Informasi hingga Tingkat Kampung
Sebagai wujud penghormatan, masyarakat adat menggelar prosesi bakar batu atau Barapen. Prosesi ini menjadi simbol penerimaan, persaudaraan, serta penghargaan terhadap kerja keras anggota TEP selama berada di Senggi. Momen tersebut menutup rangkaian acara dengan suasana haru yang kuat, menandai hubungan emosional yang telah terbangun antara warga dan tim akademisi.
Acara ditutup dengan pembacaan Naskah Solidaritas Senggi, sebuah deklarasi kolaboratif yang berisi komitmen untuk menjaga harmoni sosial serta memperkuat kerja sama dalam pembangunan kawasan. Deklarasi ini menjadi fondasi moral bagi pemerintah, masyarakat, dan akademisi untuk memastikan keberlanjutan program pembangunan di Senggi.
Bagi Tim Ekspedisi Patriot, perpisahan ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari penyusunan rekomendasi strategis yang akan disampaikan kepada pemerintah daerah dan kementerian terkait. Bagi mereka, Senggi bukan sekadar lokasi riset—melainkan ruang belajar akan keberagaman, kolaborasi, dan kekuatan kebersamaan yang tercipta di tengah masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: